, , , ,

Refleksi Perselisihan Agama dan Keyakinan: Menakar Sisa Waktu Sebelum Surga

oleh -37 Dilihat
oleh
Sebuah Ilustrasi.KabarNusa.my.id

JAKARTA, KabarNusa.my.id — Ada sebuah kalimat bijak yang berbunyi: “Kita tidak akan pernah sampai ke tujuan, jika sepanjang perjalanan kita hanya sibuk berdebat tentang siapa yang paling benar soal arah.”

Refleksi perselisihan agama dan keyakinan ini bagaikan cermin yang diletakkan tepat di depan wajah umat manusia. Di tengah usia bumi yang semakin senja, kita diingatkan pada satu kenyataan pahit: waktu kita di dunia ini begitu singkat, tetapi kita menghabiskannya untuk hal-hal yang justru menjauhkan kita dari Sang Pencipta.

Refleksi Perselisihan Agama dan Keyakinan: Ketika Kita Terlalu Sibuk Bertengkar

Mari kita merenung sejenak. Kita hidup di dunia yang fana ini hanya sekali. Jika diibaratkan perjalanan, kita adalah para musafir yang sedang menumpang bus menuju satu tujuan: kepulangan. Namun, anehnya, sepanjang perjalanan, para penumpang bus ini justru saling serang.

Kita berselisih dengan mereka yang tidak bertuhan. Kita berdebat keras dengan mereka yang bertuhan tetapi berbeda keyakinan. Lalu, ketika kita bertemu dengan mereka yang menyembah Tuhan yang sama, kita kembali berselisih karena beda mahzab, beda tafsir, beda cara beribadah, hingga beda bacaan doa.

Refleksi perselisihan agama dan keyakinan ini seolah membawa kita pada satu pertanyaan mendasar: Sejatinya, apa yang sedang kita perjuangkan?

Tiga Lapis Perselisihan Manusia: Dari Ateis Hingga Beda Mazhab

Dalam perjalanan kehidupan beragama, manusia seakan menciptakan tangga-tangga perselisihan yang tak berujung.

Lapis Pertama: Berbeda Tuhan.
Kita membenci mereka yang mengingkari keberadaan Tuhan. Kita merasa paling suci, padahal alam semesta ini adalah milik-Nya. Kita lupa, mereka yang tidak bertuhan pun diberikan akal dan hati nurani oleh Sang Pencipta yang sama.

Lapis Kedua: Sama-sama Bertuhan, Beda Agama.
Kita mengklaim hanya agama kita yang benar. Kita menutup pintu dialog, memupuk kecurigaan, dan bahkan sampai menumpahkan darah. Padahal, jika kita mau membuka mata, banyak nilai kebaikan universal yang diajarkan di setiap agama.

Lapis Ketiga: Sama Agama, Beda Mahzab atau Aliran.
Ini yang paling ironis. Satu Tuhan, satu Nabi, satu kitab suci, tetapi kita tercerai-berai. Kita saling mengkafirkan, menyebut shalat orang lain tidak sah, atau menganggap cara berdoa saudara kita sesat. Kita sibuk membedah ritual, namun lupa menakar kedalaman hati.

Pramono Resmikan Masjid Apung An-Nur di Ancol

Ego di Balik Jubah Kebenaran

Penyebab utama dari refleksi perselisihan agama dan keyakinan ini sebenarnya bukanlah perbedaan itu sendiri. Perbedaan adalah sunnatullah, sebuah keniscayaan yang diciptakan Tuhan agar kita saling mengenal.

Akar masalahnya adalah ego. Kita menggunakan agama sebagai tameng untuk membenarkan superioritas diri sendiri. Kita berdebat bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memenangkan perdebatan. Kita merasa paling benar, sehingga lupa bahwa “merasa paling benar” adalah pintu masuk menuju kesombongan spiritual.

Ketika kita sibuk menunjuk hidung orang lain, kita lupa pada noda di wajah kita sendiri. Kita sibuk menilai ibadah orang lain, tetapi lupa memperbaiki akhlak kita yang masih sering menyakiti hati sesama.

Waktu yang Terbuang untuk Saling Menyalahkan

Coba kita hitung. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk berdebat di media sosial, mengomentari unggahan orang lain, dan saling melontarkan cacian karena perbedaan pendapat? Berapa banyak energi yang terkuras untuk membenci?

Sementara itu, sisa umur kita terus berkurang setiap detiknya. Kematian bisa datang kapan saja, tanpa menunggu kita menyelesaikan perdebatan.

Refleksi perselisihan agama dan keyakinan mengajarkan kita satu hal yang sangat mahal: waktu. Waktu yang kita miliki di dunia ini hanyalah setitik air di lautan. Terlalu sayang jika setitik air itu kita gunakan untuk meracuni sumur, alih-alih menanam bunga di tepiannya.

Surga yang Begitu Sempat: Sebuah Perenungan

Judul di atas mungkin terasa menohok: Ketika Surga Begitu Sempat. Artinya, peluang kita untuk meraih surga itu sangat singkat. Kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi hari ini kita berdebat keras soal tafsir, namun besok kita sudah dipanggil menghadap-Nya.

Jika seandainya kita diberi kesempatan untuk melihat sejenak apa yang terjadi setelah kematian, niscaya kita akan menyesal telah membuang waktu untuk berdebat hal-hal yang remeh.

Di hadapan Tuhan, nanti, yang dinilai bukanlah seberapa banyak kita memenangkan debat teologis, atau seberapa keras kita menyalahkan mazhab lain. Yang dinilai adalah sejauh mana kita menebar kasih sayang, seberapa ikhlas kita memaafkan, dan seberapa besar manfaat kita bagi manusia lain, tanpa memandang latar belakang keyakinan mereka.

Merawat Jalan, Mengingat Tujuan

Refleksi perselisihan agama dan keyakinan ini bukan untuk menyalahkan salah satu pihak. Ini adalah ajakan bagi kita semua—termasuk penulis—untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan melonggarkan cengkeraman ego.

Mari kita sadari, bahwa kita semua sedang berjalan menuju tempat yang sama. Jika jalan kita berbeda, biarkanlah. Jika cara kita menyembah berbeda, biarkanlah. Tugas kita bukan menghakimi, melainkan merawat jalan kita masing-masing agar tetap lurus.

Sebab, ketika ruh telah berpisah dari raga, dan mulut telah membisu, tak ada lagi yang bisa kita banggakan selain amal perbuatan. Maka dari itu, sebelum waktu kita habis, mari kita mulai membangun jembatan, bukan tembok. Mari kita bertoleransi bukan karena kita lemah, tetapi karena kita sadar, waktu kita untuk berbuat baik di dunia ini benar-benar begitu sempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.