BANDUNG, KabarNusa.my.id — Lomba Toilet Bersih Kota Bandung sering kali dipandang sebelah mata sebagai ajang kompetisi antar sekolah untuk mempercantik fasilitas buang air. Namun, siapa sangka, di balik penilaian lantai yang mengkilap dan dinding yang dicat cerah, terdapat sebuah misi besar: membangun peradaban melalui ruang kecil yang sering terlupakan.
Di SD Negeri 217 Bandung, para pengawas Dinas Pendidikan tampak serius meninjau setiap sudut. Mulai dari poster tata cara cuci tangan, ketersediaan air bersih, hingga buku kontrol kebersihan. Bagi Hendra Kusnrendar, S.Pd.I, Pengawas Dinas Pendidikan Kota Bandung, Lomba Toilet Bersih Kota Bandung bukan sekadar tentang siapa yang paling bersih saat juri datang. Ini adalah gerakan pendidikan.
Lomba Toilet Bersih Kota Bandung: Ketika Toilet Menjadi Ruang Belajar Karakter
Hakikat pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui nasihat atau slogan di dalam kelas. Menurut Hendra, karakter harus diwujudkan melalui kebiasaan nyata. Toilet menjadi media konkret untuk membentuk nilai tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian.
“Hakikat pendidikan dalam Lomba Toilet Bersih adalah mengubah kebersihan dari kegiatan sesaat menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi budaya, dan dari budaya menjadi karakter warga sekolah.” — Hendra Kusnrendar, S.Pd.I, Pengawas Dinas Pendidikan Kota Bandung
Ketika peserta didik membiasakan diri menyiram toilet setelah digunakan, membuang sampah pada tempatnya, serta mencuci tangan dengan sabun, mereka sedang mempraktikkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam tindakan sehari-hari. Kedisiplinan tumbuh melalui kepatuhan terhadap aturan, dan kemandirian terbentuk ketika mereka menjaga kebersihan tanpa harus selalu diingatkan.

Mengubah Kebiasaan Menjadi Budaya dan Karakter
Lomba Toilet Bersih Kota Bandung juga erat kaitannya dengan penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Toilet yang tidak terawat, ketersediaan air yang minim, serta tidak adanya sabun cuci tangan dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.
Oleh karena itu, sekolah didorong untuk membangun sistem pembiasaan yang mencakup penggunaan toilet secara benar, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, hingga pemeliharaan saluran pembuangan. Keberhasilan lomba tidak diukur dari kondisi toilet saat penilaian berlangsung, melainkan dari perubahan perilaku warga sekolah setelahnya.
“Toilet yang bersih karena akan dinilai juri menunjukkan kesiapan menghadapi kompetisi, sedangkan toilet yang tetap bersih setiap hari menunjukkan keberhasilan pendidikan karakter.”
Lima Pilar Penilaian: Standar Baru Mutu Sanitasi Sekolah
Untuk memastikan penilaian yang objektif dan mendidik, Lomba Toilet Bersih Kota Bandung menggunakan lima pilar utama sebagai indikator:
-
Bersih dan Sehat: Lantai tidak licin, kloset tidak berbau, bebas jentik nyamuk, dan tidak ada genangan air.
-
Kelengkapan Sarana: Ketersediaan air bersih, sabun, jet shower, pemisahan toilet pria dan wanita, serta fasilitas Manajemen Kesehatan Menstruasi (MKM).
-
Aman, Nyaman, dan Ramah Anak: Pencahayaan terang, ventilasi baik, privasi terjaga, serta aksesibilitas (handrail) bagi penyandang disabilitas.
-
Pengelolaan dan Partisipasi: Adanya Tim Pokja, jadwal piket, buku kontrol, dan pelibatan orang tua atau komite sekolah.
-
Estetika, Edukasi, dan Inovasi: Poster edukasi CTPS, tanaman hidup, pengharum ruangan yang aman, serta inovasi seperti Duta Lingkungan atau program Satu Kelas Satu Toilet Asuh.
Kelima pilar ini menegaskan bahwa estetika dan inovasi hanya menjadi nilai tambah. Unsur kesehatan, keselamatan, fungsi, dan sanitasi tetap menjadi prioritas mutlak.
Toilet sebagai Cermin Tata Kelola Sekolah
Kondisi toilet dapat menjadi indikator sejauh mana sekolah mengelola lingkungan pendidikannya. Toilet yang terawat konsisten memerlukan perencanaan matang, pembagian tanggung jawab, ketersediaan sumber daya, dan pengawasan berkelanjutan.
Kepala sekolah tidak cukup hanya memerintahkan agar toilet dibersihkan. Mereka perlu membangun sistem, mulai dari identifikasi kebutuhan, penyusunan jadwal pemeliharaan, pengalokasian anggaran, hingga evaluasi. Sekolah yang bertata kelola baik tidak menunggu toilet rusak atau lomba digelar untuk melakukan perbaikan.
Peran Pengawas: Mendampingi, Bukan Sekadar Menilai
Dalam perspektif kepengawasan, Lomba Toilet Bersih Kota Bandung dijadikan momentum pendampingan peningkatan mutu. Pengawas sekolah berperan membantu sekolah memahami hasil penilaian sebagai informasi untuk perbaikan, bukan semata-mata sebagai ukuran keberhasilan kompetisi.
Langkah pendampingan tersebut meliputi identifikasi kondisi awal, analisis akar masalah, penyusunan rencana aksi, pelaksanaan pembiasaan, monitoring dan evaluasi, hingga tindak lanjut berkelanjutan yang masuk ke dalam program kerja sekolah.
Ketika Toilet Tetap Bersih Tanpa Juri
Mewujudkan toilet sekolah yang bersih dan layak bukan tanggung jawab satu orang. Ia memerlukan gerakan kolektif antara pemerintah daerah, sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua.
Pada akhirnya, Lomba Toilet Bersih Kota Bandung bukanlah tentang melahirkan sekolah juara. Ia adalah ikhtiar membangun sekolah yang berkarakter. Ketika toilet tetap bersih meskipun tidak ada lomba, ketika peserta didik menjaga fasilitas tanpa harus diingatkan, dan ketika sekolah melakukan pemeliharaan sebagai bagian dari tanggung jawabnya—pada saat itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya telah terwujud.
Toilet bersih bukan sekadar simbol kebersihan fisik, melainkan cermin karakter warga sekolah, kualitas tata kelola, dan kesungguhan dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu di Kota Bandung.








