, , , ,

Karhutla Papua PSN dan Masyarakat Adat: Api yang Membakar Tanah Leluhur

oleh -71 Dilihat
oleh
Gambar Ilustrasi Karhutla Papua. AI

MERAUKE, KabarNusa.my.id — Selama bertahun-tahun, sorotan karhutla di Indonesia selalu terpusat pada Riau, Jambi, atau Kalimantan. Namun, di ujung timur Indonesia, sebuah tragedi ekologis yang jauh lebih masif tengah berlangsung dalam senyap. Karhutla Papua PSN dan masyarakat adat adalah tiga entitas yang kini terjalin dalam sebuah dilema pahit: ambisi pembangunan negara, kerentanan ekosistem gambut, dan eksistensi masyarakat adat yang terancam.

Data satelit tidak bisa berbohong. Papua, khususnya wilayah Selatan, telah berubah menjadi episentrum baru kebakaran hutan dan lahan. Api yang membakar bukan sekadar dedaunan kering, melainkan harapan dan tanah leluhur.


Karhutla Papua PSN dan Masyarakat Adat: Bencana yang Tak Cukup Diberitakan

Mengapa karhutla di Papua luput dari perhatian nasional? Jawabannya mungkin terletak pada jarak, keterbatasan akses informasi, atau karena asapnya dianggap tidak melumpuhkan aktivitas perekonomian di Pulau Jawa.

Padahal, karhutla Papua PSN dan masyarakat adat menyimpan fakta yang mengerikan. Data Global Forest Watch mencatat Papua kehilangan sekitar 27 ribu hektare hutan primer sepanjang tahun 2025, angka tertinggi sejak 2017. Sementara itu, analisis MADANI Berkelanjutan untuk periode Januari–Juli 2026 menemukan luas area terindikasi terbakar di Papua Selatan mencapai 41.790 hektare.

Yang lebih mengejutkan, 89,5% dari area terbakar tersebut terjadi hanya dalam satu bulan, tepatnya pada Juli 2026. Kabupaten Merauke mencatat rekor sebagai wilayah dengan area terbakar terluas secara nasional, yaitu mencapai 33.609 hektare.

Karhutla Papua masih terjadi sampai 5 Nopember 2026.Istimewa

Merauke dalam Pusaran Api: Skala yang Terlupakan

Kabupaten Merauke kini bagaikan panggang. Di atas kertas, wilayah ini diproyeksikan menjadi lumbung pangan masa depan Indonesia melalui program Food Estate. Namun, realitas di lapangan berkata lain. Alih-alih panen melimpah, yang tersaji adalah lahan hangus dan kabut asap yang menyesakkan.

BNPB mencatat bahwa hingga awal November 2026, Papua Selatan masih menjadi prioritas utama penanganan karhutla. Upaya pemadaman terus dilakukan, mulai dari water bombing hingga modifikasi cuaca. Namun, medan yang sulit dan sumber air yang mengering saat kemarau membuat api sulit dijinakkan.

Ironisnya, kebakaran ini seringkali terjadi di lahan gambut yang dikeringkan. Ketika gambut mengering, ia berubah menjadi bahan bakar fosil yang sangat mudah terbakar dan menciptakan asap tebal yang bertahan berbulan-bulan.

 

Relasi Karhutla Papua PSN dan Masyarakat Adat di Merauke

Inilah inti dari karhutla Papua PSN dan masyarakat adat. Dugaan bahwa Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate memiliki andil besar dalam kerentanan kebakaran ini bukanlah isapan jempol belaka.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) secara eksplisit menyebutkan bahwa titik-titik api teridentifikasi di kawasan PSN Food Estate di Merauke. Pembukaan lahan skala raksasa—yang mencapai rencana 2,5 juta hektare—telah mengubah bentang alam secara drastis. Hutan dan rawa gambut yang sebelumnya basah dan lembap dibuka, dikeringkan, dan diubah peruntukannya.

Mekanisme inilah yang memicu kerentanan. Pembukaan jalan akses dan kanal-kanal pengeringan (drainase) membuat air cepat mengalir keluar. Saat musim kemarau tiba, lahan bekas bukaan tersebut menjadi sangat kering. Api bisa muncul dari percikan kecil—entah dari aktivitas manusia, gesekan, atau pembakaran lahan—dan dengan cepat menyebar ke lahan gambut di sekitarnya.

Karhutla Papua PSN dan masyarakat adat bukanlah kebetulan. Ia adalah konsekuensi logis dari perubahan tata guna lahan yang masif tanpa diimbangi dengan mitigasi lingkungan yang memadai.

Asap Lintas Batas: Menembus Port Moresby dan Vietnam

Salah satu anggapan yang beredar di masyarakat adalah bahwa karhutla di Papua tidak sebesar dampak sosial-politik di Sumatera atau Kalimantan karena asapnya tidak menyebrang ke negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Anggapan ini keliru.

Faktanya, laporan dari Radio New Zealand (RNZ) pada Oktober 2026 menyebutkan bahwa kabut asap dari kebakaran hutan di Papua telah menyebar hingga mencapai Port Moresby, ibu kota Papua Nugini (PNG). Otoritas setempat bahkan mengimbau warganya untuk waspada dan membatasi aktivitas di luar ruangan akibat kualitas udara yang memburuk.

Bahkan, laporan dari BBC Vietnam menyebutkan bahwa asap dari kebakaran di Kalimantan, Papua, dan Sumatra tidak berhenti di batas negara dan sempat mempengaruhi kualitas udara hingga ke wilayah Vietnam Selatan.

Pola angin yang bergerak dinamis membuat sebaran asap ini sulit diprediksi. BMKG mencatat bahwa sebaran asap dari wilayah Papua bergerak mengikuti pola angin dan berpotensi menimbulkan dampak lintas batas. Jadi, meskipun arah angin tidak selalu membawa asap ke arah barat (Malaysia/Singapura), asap Papua tetap memiliki dampak regional yang nyata ke arah timur dan utara.

Beban Ganda Masyarakat Adat Malind

Bagi masyarakat adat di Papua, terutama Masyarakat Adat Malind yang mendiami wilayah Merauke, karhutla Papua PSN dan masyarakat adat ini membawa beban ganda yang sangat berat.

Pertama, kebakaran menghanguskan hutan adat dan ladang sagu yang menjadi tumpuan hidup mereka. Bagi masyarakat Malind, dusun sagu bukan sekadar tanaman pangan; ia adalah ruang sosial, identitas budaya, dan simbol eksistensi yang tidak bisa digantikan oleh tanaman budidaya lain seperti padi atau jagung.

Kedua, proyek PSN Food Estate mengambil alih wilayah adat mereka. Organisasi seperti PMKRI dan YLBHI mendesak pemerintah untuk mengevaluasi PSN, karena proyek tersebut mencakup sekitar dua juta hektare lahan di atas wilayah tanah adat Masyarakat Malind.

Ketika api membakar lahan, masyarakat adat adalah pihak yang paling terdampak. Mereka menghirup asap paling pekat, kehilangan sumber pangan, dan seringkali menjadi pihak yang paling terakhir mendapatkan bantuan karena keterbatasan akses secara administratif maupun geografis.

Menarik untuk dibaca :

Komdigi Sensor Berita Karhutla Shadow Block: Antara Bantahan Resmi dan Bukti yang Menggantung

Pesona Raja Ampat: Surga di Timur Indonesia dan Rincian Biaya dari Jakarta

Ketika Hutan Adat Tak Lagi Menyimpan Air

Karhutla Papua PSN dan masyarakat adat adalah cermin dari sebuah dilema pembangunan yang timpang. Negara ingin mengejar ketahanan pangan melalui PSN, tetapi di sisi lain, negara lupa bahwa ketahanan pangan itu harus dibangun di atas fondasi ekologi yang sehat dan penghormatan terhadap hak masyarakat adat.

Api yang membakar Papua Selatan hari ini bukan sekadar bencana alam yang terjadi karena kemarau panjang. Ia adalah hasil dari intervensi manusia yang mengubah wajah hutan dan gambut. Ketika hutan adat tak lagi mampu menyimpan air, dan gambut dikeringkan demi ambisi investasi, maka api tinggal menunggu waktu untuk menyala.

Sudah saatnya sorotan dialihkan ke timur. Karhutla di Papua bukan bencana kelas dua. Ia adalah tragedi kemanusiaan dan ekologi yang menuntut solusi nyata, bukan sekadar retorika pembangunan.

Artikel ini diterbitkan oleh KabarNusa.my.id — Kabar Daerah untuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.