Padang, KabarNusa.my.id – Sumatera menyimpan kekayaan energi baru terbarukan (EBT) yang melimpah. Namun, di balik potensi besar tersebut, terdapat satu elemen kunci yang sering terlupakan: kearifan lokal. Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Universitas Andalas (UNAND) baru-baru ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan adat istiadat dalam kebijakan energi nasional, khususnya di Sumatera . Bukan sekadar wacana, pendekatan berbasis kearifan lokal terbukti menjadi jembatan antara pembangunan energi dan penerimaan masyarakat.
🌿 Kearifan Lokal: Bukan Sekadar Simbol, Tapi Kunci Penerimaan
Masyarakat Indonesia, khususnya di Sumatera, telah lama hidup berdampingan dengan alam melalui nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. Di Sumatera Barat, falsafah “alam takambang jadi guru” mengajarkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dieksploitasi, tetapi sesuatu yang perlu dipelajari, dihormati, dan diwariskan . Ini bukan ungkapan kosong. Di Tapanuli Selatan, kearifan lokal “Hatabosi” telah terbukti menjaga kelestarian hutan dan sumber air selama ratusan tahun .
DEN menyadari hal ini. Anggota DEN, Satya Widya Yudha, menekankan bahwa pengembangan EBT tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan top-down dari pemerintah pusat. Pendekatan yang melibatkan pemahaman dan dialog dengan masyarakat menjadi kunci agar proyek energi bersih bisa diterima (acceptance) oleh warga . Tanpa penerimaan sosial, proyek-proyek besar bisa terhambat oleh resistensi, apalagi jika menyentuh tanah ulayat atau kawasan adat .
🌊 Energi dari Hutan: Bukti Nyata Kearifan Lokal Menghidupi
Kearifan lokal bukan sekadar konsep, tetapi praktik hidup. Desa Rumah Kinangkung di Deliserdang, Sumatera Utara, adalah contoh nyata. Selama lebih dari 25 tahun, warga desa yang menjaga hutan dengan ketat justru menuai hasilnya: listrik dari tenaga air (mikrohidro) yang mereka kelola sendiri . Tokoh adat setempat menyebutnya tenaga lau (air), sebuah bukti bahwa menjaga hutan berarti menjaga sumber kehidupan.
Di pedalaman Mentawai, kisah serupa terjadi. Di Desa Matotonan, akses listrik dari PLN belum menjangkau. Namun, warga telah beradaptasi dengan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan mesin diesel, meskipun tidak selalu maksimal . Upaya ini menunjukkan bahwa ketika kebijakan besar belum menyentuh, masyarakat adat tidak tinggal diam. Mereka mencari solusi berbasis ketersediaan dan kemampuan lokal.
Sinergi Adat dan Investasi: Harmoni Pembangunan di Tapanuli Selatan
Di Tapanuli Selatan, kisah yang berbeda namun menarik terjadi. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) selaku pengembang PLTA Batangtoru berkapasitas 510 Megawatt, justru memilih jalan mengapresiasi dan merangkul kearifan lokal . Kehadiran mereka disambut secara sakral dengan prosesi “mangulosi” oleh para raja adat dan tokoh masyarakat . Ini adalah isyarat jelas bahwa masyarakat terbuka terhadap pembangunan, asalkan rasa hormat terhadap budaya dan adat tetap dijunjung.
Komisaris NSHE mengakui bahwa peran raja-raja adat dan tokoh masyarakat sangat berpengaruh terhadap percepatan pembangunan di daerah . Mereka tidak hanya fokus pada proyek, tetapi juga mendukung program pemberdayaan masyarakat dan konservasi lingkungan, seperti yang terjadi di komunitas “Hatabosi” di Marancar .
🔥 Panas Bumi dan Filosofi Minang: “Alam Takambang Jadi Guru”
Sumatera Barat, dengan potensi panas bumi (geothermal) yang besar, menjadi laboratorium bagi pendekatan berbasis budaya. Falsafah Minangkabau “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (Adat bersendikan agama, agama bersendikan Kitabullah) dan “alam takambang jadi guru” menjadi fondasi yang kuat untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya energi terbarukan .
UNAND didorong oleh DEN untuk menjadi katalisator yang mempertemukan pemerintah, investor, dan masyarakat . Kampus tidak hanya menjadi tempat kajian, tetapi jembatan yang menjamin proyek EBT tidak bertabrakan dengan nilai-nilai adat. “Duduk sendiri bersempit-sempit, duduk bersama berlapang-lapang,” kata Wakil Rektor UNAND mengutip filosofi Minang, mengingatkan bahwa dialog adalah kunci .
Kearifan lokal di Sumatera bukanlah penghalang bagi transisi energi, melainkan fondasi untuk mencapai keadilan dan keberlanjutan. Dari hutan yang dijaga hingga menghasilkan listrik, hingga adat yang dihormati dalam proyek investasi, bukti-bukti menunjukkan bahwa pendekatan yang menghargai budaya justru mempercepat pembangunan dan menciptakan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sumatera, sebagai “lumbung energi bersih” dengan 34% potensi EBT nasional , memiliki peluang besar untuk menjadi model bagi Indonesia. Kuncinya adalah menjadikan kearifan lokal sebagai “peta jalan,” bukan sekadar catatan pinggir dalam kebijakan energi nasional.
📝 KabarNusa.my.id
— Akurat – Terpercaya – Inspiratif dari Nusantara, untuk Indonesia. Menyajikan Fakta, Membangun Bangsa.
