, , , ,

Seni Reak: Dentuman Mistis dari Bandung Timur yang Mendunia

oleh -68 Dilihat
oleh
Pertunukan Seni Reak di Bandung Timur. Foto Istimewa

BANDUNG, KabarNusa.my.id — Jika melintasi kawasan Bandung Timur seperti Ujungberung, Cibiru, hingga Cileunyi, lalu terdengar tabuhan keras yang menggema dan menggetarkan, besar kemungkinan itu adalah pertunjukan Seni Reak. Kehadiran rombongan kesenian ini kerap mengubah suasana jalanan menjadi ramai, penuh penonton, serta dipenuhi debu dan hiruk-pikuk.

Seni Reak bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Ia adalah tradisi khas Sunda yang sarat energi dan nuansa mistis, memadukan musik tradisional yang menghentak dengan visual penari bertopeng besar serta atraksi yang kerap memicu ketegangan. Lebih dari itu, Seni Reak adalah warisan leluhur yang telah berusia hampir satu abad, sebuah cermin dari perjalanan panjang masyarakat agraris Sunda yang bertransformasi mengikuti zaman.

Seni Reak: Dentuman Mistis yang Menggetarkan Bandung Timur

Seni Reak adalah salah satu kesenian masyarakat Sunda yang berbentuk seni musik dan seni tari Kuda Lumping serta barong singa barong dengan penutup karung goni. Kesenian ini telah lama hidup dan berkembang di wilayah Bandung Timur, diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan biasa ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti hajatan, khitanan, hingga perayaan kampung.

Salah satu ciri paling mencolok dari Seni Reak adalah kehadiran sosok bertopeng besar menyerupai hewan atau makhluk mitologis. Bentuknya beragam, dengan warna mencolok dan ekspresi garang yang memberikan kesan dramatis bagi penonton. Pertunjukan ini diiringi alat musik tradisional seperti dogdog dan terompet yang dimainkan dengan tempo cepat dan ritmis.

Apa Itu Seni Reak? Memahami Kesenian yang Sarat Makna

Secara harfiah, Seni Reak berasal dari kata bahasa Sunda ngareuah-reah atau ngaramekeun, yang berarti membuat ramai. Ada pula yang menyebutkan kata Reak berasal dari eak-eakan—sahut-sahutan para pemain kesenian itu supaya ramai. Nama ini sesungguhnya menggambarkan hakikat pertunjukan: sebuah perayaan kolektif yang melibatkan seluruh komunitas.

Seni Reak merupakan gabungan antara beberapa jenis kesenian, seperti seni Reog Ponorogo, seni topeng, dan seni tari. Kesenian ini lahir sekitar abad ke-14 M, yang pada saat itu diciptakan sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran agama Islam melalui kearifan lokal di Jawa Barat.

Sejarah Seni Reak: Dari Ritual Agraris hingga Panggung Dunia

Sejarah Seni Reak tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat agraris Sunda. Awalnya, seni tersebut merupakan pengiring upacara yang disebut “helaran reumpak jarami, ampih pare”—yakni upacara yang dilakukan ketika para petani memindahkan padi dari sawah ke tempat penyimpanan padi (leuit) atau disimpan ke rumah.

Dalam catatan sejarah, Seni Reak yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Abah Juarta pada 1930-an ini memiliki empat aliran: Juarta, Rahma, Kurdi, dan Enjoh. Abah Juarta memulai dengan nama grup Warga Budaya (1935-1975) sebelum akhirnya diubah menjadi Juarta Putra untuk menghormati dan mengenang jasa beliau yang meninggal dunia pada tahun 1980.

Ada dua versi keberadaan Seni Reak di Jawa Barat. Versi pertama menyebutkan bahwa Seni Reak merupakan tiruan dari sindiran yang dibuat oleh Ki Ageng Surya Alam kepada Raja Majapahit, yang kemudian diadopsi oleh Kerajaan Pajajaran pada abad ke-15. Versi kedua menyebutkan bahwa kesenian ini dibawa oleh orang-orang Ponorogo pada abad ke-16 hingga ke-17 pada zaman Kesultanan Cirebon.

Instrumen dan Elemen Pertunjukan Seni Reak

Pertunjukan Seni Reak tidak akan lengkap tanpa instrumen-instrumen yang menjadi denyut nadinya. Instrumen pengiring yang digunakan antara lain seperangkat alat musik dogdog yang terdiri dari tilingtit, tong, brung, dan bangplak, serta bedug, kecrek, dan tarompet.

Dalam pagelarannya, Seni Reak juga menyertakan instrumen etnik Sunda seperti dogdog, kendang, calung, suling, dan tetabuhan lainnya sehingga menciptakan komposisi irama yang khas. Sajian kesenian ini dilengkapi oleh penari barongan dan penari kuda lumping yang biasanya tampil dalam keadaan kerasukan atau kesurupan.

Rombongan Seni Reak umumnya beranggotakan sekitar 10 orang, terdiri dari satu barongan, dua kuda lumping, dan tujuh pemusik. Grup Juarta Putra sendiri saat ini beranggotakan 30 orang.

Filosofi dan Nilai Budaya dalam Seni Reak

Seni Reak bukan sekadar hiburan. Ia adalah media untuk menanamkan nilai-nilai dasar bangsa seperti kerja sama, saling menghormati, dan persatuan. Penelitian menunjukkan bahwa Reak memainkan peran penting dalam memperkuat ikatan komunitas, meningkatkan toleransi, dan memupuk rasa kebersamaan, terutama di kalangan generasi muda.

Abah Enjum, budayawan sekaligus pupuhu Seni Reak, menegaskan bahwa di dalam seni reak terdapat nilai, dan di balik nilai itu ada pengendali yang disebut malim.

“Di dalam seni reak itu ada nilai. Di balik nilai itu ada pengendali, adalah sebagai malim. Kalau tidak tahu tentang nilainya, sejarahnya pun mereka tidak akan tahu.” — Abah Enjum, Budayawan Seni Reak

Menurut Abah Enjum, Seni Reak pada dasarnya merupakan kesenian agraris yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan. Sebelum kemudian mengalami pergeseran fungsi seiring perubahan kehidupan masyarakat menuju sektor industri.

Seni Reak Mendunia: Dari Cileunyi ke Festival Roskilde

Kabar membanggakan datang dari Seni Reak Juarta Putra asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Delapan orang perwakilan dari grup ini diundang tampil di Festival Musik Roskilde di Denmark pada 26 Juni-2 Juli 2022. Festival Roskilde merupakan acara musik terbesar di Denmark dan salah satu yang terbesar di Eropa.

Juarta Putra tampil di hari yang sama dengan The Strokes, St. Vincent, Haim, dan Kings of Convenience. Mereka juga berkolaborasi dengan musisi cultural movement dari Denmark yang tergabung dalam kelompok bernama Snöleoparden, serta dari Italia bernama Luigi.

“Sebuah kebanggaan luar biasa, seni reak Juarta Putra mendapatkan kesempatan untuk mementaskan tradisi Indonesia khususnya Jawa Barat pada Festival Musik Roskilde yang diadakan di Denmark bersama jajaran artis legendaris dunia.” — Anggi Nugraha, Ketua Grup Seni Reak Juarta Putra

Tantangan dan Upaya Pelestarian Seni Reak

Di tengah arus modernisasi, Seni Reak tetap bertahan dan bahkan mengalami regenerasi. Banyak generasi muda di Bandung Timur yang terlibat aktif dalam pelestarian, mulai dari mempelajari musik hingga tampil dalam berbagai acara.

Namun, tantangan tetap ada. Abah Enjum menilai salah satu tantangan terbesar regenerasi Seni Reak saat ini adalah kecenderungan sebagian pelaku hanya berorientasi pada pertunjukan, tanpa disertai upaya menggali sejarah dan sumber pengetahuan yang mendasarinya.

“Harus punya keinginan untuk mencari literatur yang jelas. Intinya harus punya keinginan mencari literatur yang jelas.” — Abah Enjum

Karena itu, ia mendorong para seniman dan generasi muda untuk menjadikan penelitian, literatur, serta kajian budaya sebagai bagian dari proses pengembangan Seni Reak agar tidak kehilangan akar sejarahnya.

Menjaga Napas Seni Reak di Tengah Zaman

Seni Reak adalah cermin dari perjalanan panjang masyarakat Sunda. Dari ritual agraris di sawah-sawah Cileunyi, hingga panggung Festival Roskilde di Denmark, kesenian ini telah membuktikan bahwa warisan budaya tidak pernah benar-benar mati—ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali oleh generasi berikutnya.

Bagi kalangan muda, Seni Reak bukan hanya warisan budaya, tetapi juga bagian dari identitas lokal. Tradisi ini menjadi cara untuk menunjukkan bahwa budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman dan dominasi hiburan digital.

Dengan karakter yang unik dan atmosfer yang khas, Seni Reak selalu mampu menciptakan pertunjukan yang memikat perhatian. Tak heran jika setiap kemunculannya kerap mengubah ruang publik menjadi panggung seni yang spektakuler dan penuh nuansa misteri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.