BUKITTINGGI, KabarNusa.my.id — Tambusu Bukit Tinggi vs Daechang Korea menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta kuliner. Kota Bukittinggi di Sumatera Barat memang terkenal dengan pesona alamnya, mulai dari Ngarai Sianok hingga Jam Gadang yang ikonis. Namun, di balik keindahan wisata alamnya, kota ini juga menyimpan kekayaan kuliner yang tak kalah memukau. Salah satunya adalah Tambusu, hidangan usus sapi berisi tahu dan telur yang disiram kuah gulai kaya rempah.
Di era media sosial seperti sekarang, kuliner berbahan usus sapi memang tengah naik daun. Korea Selatan memiliki Daechang yang viral di TikTok dan menjadi primadona di restoran Korean BBQ. Lantas, bagaimana dengan Tambusu dari Bukittinggi? Apakah bisa sejajar dengan Daechang Korea? Jawabannya: Tak Kalah!
Tambusu Bukit Tinggi vs Daechang Korea: Siapa Juara?
Perdebatan Tambusu Bukit Tinggi vs Daechang Korea sebenarnya bukan tentang siapa yang lebih baik, melainkan tentang bagaimana dua budaya berbeda mengolah bahan yang sama menjadi hidangan istimewa. Keduanya berbahan dasar usus sapi, namun menghasilkan cita rasa yang sangat berbeda.
Tambusu Bukit Tinggi menawarkan sensasi gurih pedas dengan kuah santan kaya rempah, sementara Daechang Korea menghadirkan sensasi panggang yang renyah di luar dan lembut di dalam. Keduanya unik dan layak dicoba.

Apa Itu Tambusu, Kuliner Khas Bukittinggi?
Tambusu adalah makanan tradisional yang berasal dari Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Hidangan ini terbuat dari usus sapi yang diisi dengan campuran telur ayam dan tahu, kemudian dimasak dengan kuah gulai berbumbu rempah khas Minang.
Proses pembuatan Tambusu Bukit Tinggi tergolong rumit dan membutuhkan kesabaran. Usus sapi yang telah dibersihkan diisi dengan adonan telur, tahu, serta bumbu rempah seperti kunyit, serai, lengkuas, dan santan kental. Setelah diisi, usus direbus hingga matang, lalu dipotong-potong dan dimasak kembali dengan kuah gulai.
Rasanya? Gurih, pedas, dan kaya rempah. Perpaduan antara lembutnya isian tahu dan telur dengan tekstur kenyal usus sapi menciptakan sensasi makan yang tak terlupakan. Tak heran jika banyak perantau Minang yang selalu mencari menu ini ketika pulang kampung, terutama di momen Lebaran.
Dulu, Tambusu mudah ditemui di berbagai acara besar seperti pesta pernikahan hingga perayaan hari raya. Kini, meski popularitasnya menurun, gulai Tambusu tetap dipandang sebagai simbol kekayaan kuliner Minang yang patut dilestarikan.
Mengenal Daechang, Sajian Usus Sapi Viral dari Korea
Daechang adalah kuliner khas Korea Selatan yang terbuat dari usus besar sapi. Berbeda dengan Tambusu Bukit Tinggi yang disajikan berkuah, Daechang umumnya diolah dengan cara dipanggang (grill) atau sebagai isian sup pedas.
Bentuk Daechang menyerupai selang air berisi gelembung putih yang merupakan lemak. Saat dipanggang, lemak di dalamnya meleleh, sementara bagian luarnya menjadi renyah berwarna madu keemasan. Teksturnya kenyal dengan sensasi lemak yang meleleh di mulut—itulah mengapa Daechang dijuluki sebagai guilty pleasure.
Di Korea, Daechang sering disantap bersama yang (babat sapi), sehingga menu ini kerap disebut ‘yangdaechang’. Restoran yang menyajikan jeroan sapi ini banyak dijumpai di Daegu.
Tambusu Bukit Tinggi vs Daechang Korea: Perbandingan
Banyak yang membandingkan Tambusu Bukit Tinggi vs Daechang Korea karena sama-sama berbahan dasar usus sapi. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar:
| Aspek | Tambusu Bukit Tinggi | Daechang Korea |
|---|---|---|
| Bahan | Usus sapi diisi tahu dan telur | Usus besar sapi berisi lemak alami |
| Cara Masak | Direbus dalam kuah gulai santan | Dipanggang (grill) atau sup pedas |
| Cita Rasa | Gurih, pedas, kaya rempah | Gurih berlemak, juicy, renyah di luar |
| Penyajian | Disiram kuah gulai, disantap dengan nasi | Disajikan di atas panggangan, sebagai anju (camilan minum) |
| Aksesibilitas | Kini langka, hanya saat Lebaran atau di tempat tertentu | Viral di media sosial, tersedia di restoran Korea |
Dari segi harga, Tambusu Bukit Tinggi jauh lebih terjangkau. Di pasaran, harga Tambusu sekitar Rp40.000 per kilogram, sementara Daechang di Korea bisa mencapai 1 jutaan won per porsi.
Meski berbeda, keduanya sama-sama membuktikan bahwa usus sapi bisa diolah menjadi hidangan premium yang digemari banyak orang. Tambusu mewakili kekayaan rempah Nusantara, sementara Daechang mewakili sensasi panggang ala Korea.
Di Mana Mencicipi Tambusu Asli Bukittinggi?
Bagi wisatawan yang ingin mencoba Tambusu Bukit Tinggi asli, ada beberapa tempat yang direkomendasikan:
1. Los Lambung — Pasar tradisional di dekat Jam Gadang yang menjual berbagai masakan Nasi Kapau. Di pasar ini, Anda bisa menemukan olahan Tambusu yang autentik.
2. Nasi Kapau Uni Lis — Salah satu los rekomendasi di Bukittinggi yang menyajikan Tambusu sebagai menu andalan.
3. Rumah Makan Padang di Sekitar Bukittinggi — Meski kini semakin jarang ditemui di rumah makan Padang, beberapa tempat masih menyajikan Tambusu sebagai menu spesial, terutama saat Lebaran.
Tambusu Bukit Tinggi Tak Kalah
Tambusu Bukit Tinggi vs Daechang Korea bukanlah pertarungan siapa yang lebih unggul, melainkan perayaan keberagaman kuliner dunia. Tambusu adalah bukti bahwa Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang tak kalah dengan negara lain.
Di tengah gempuran makanan viral dari luar negeri seperti Daechang Korea, Tambusu tetap berdiri sebagai warisan budaya kuliner Minangkabau yang sarat makna dan cita rasa.
Jika Daechang bisa viral di media sosial dan menjadi primadona Korean BBQ, mengapa Tambusu tidak? Sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia bangga dan melestarikan kuliner tradisional seperti Tambusu. Rasanya yang gurih, pedas, dan kaya rempah benar-benar tak kalah dengan Daechang Korea.
Jadi, jika Anda berkunjung ke Bukittinggi, jangan sampai melewatkan kesempatan untuk mencicipi Tambusu. Siapa tahu, setelah mencicipinya, Anda akan setuju bahwa Tambusu Bukittinggi tak kalah dari Daechang Korea!
KabarNusa.my.id — Kabar Daerah untuk Indonesia.







