BANDAR LAMPUNG, KabarNusa.my.id — Dampak abu vulkanik Lampung akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) semakin meluas. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengungkapkan, abu vulkanik telah berdampak di enam wilayah di Provinsi Lampung. Sebaran dampak abu vulkanik Lampung dipengaruhi oleh perubahan arah angin yang bergeser ke barat daya hingga barat laut.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terjadi pada Jumat (4/9/2026) malam. Gunung yang terletak di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, ini masih berstatus Level III atau Siaga. Kolom abu vulkanik tercatat mencapai ketinggian 14,6 kilometer. Dampak abu vulkanik Lampung dirasakan hingga ke berbagai sektor, mulai dari kesehatan, transportasi, hingga aktivitas sehari-hari warga.

Sejumlah kendaraan yang parkir di bandar Lampung, terkena abu Vulkanik
ampak Abu Vulkanik Lampung: Enam Daerah Terdampak
Dampak abu vulkanik Lampung menyebar ke enam kabupaten dan kota:
-
Lampung Selatan — wilayah terdekat dengan Gunung Anak Krakatau
-
Bandar Lampung — ibu kota provinsi
-
Pesawaran
-
Pringsewu
-
Tanggamus
-
Pesisir Barat
BNPB mencatat tiga kabupaten paling terdampak dampak abu vulkanik Lampung, yakni Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pandeglang (Banten). Sebaran abu vulkanik juga terpantau menyebar ke Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.
Gubernur Mirza menjelaskan, dampak abu vulkanik Lampung terus bergerak ke arah barat daya dan sedikit ke barat laut. Luas sebaran abu vulkanik sangat bergantung pada kecepatan angin dan ketinggian erupsi.
Kualitas Udara Tidak Sehat Akibat Dampak Abu Vulkanik Lampung
Dampak abu vulkanik Lampung terhadap kesehatan masyarakat sangat terasa. Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) di Bandar Lampung berada di kisaran 212-224 mikrogram per meter kubik (µg/m³) — masuk kategori tidak sehat.
Partikel abu vulkanik berukuran 5-10 mikrometer dengan bentuk tidak beraturan dan cenderung tajam, berpotensi menimbulkan iritasi jika terhirup atau mengenai mata dan kulit. Dampak abu vulkanik Lampung ini membuat warga di sejumlah daerah mengeluhkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman, hingga gangguan pernapasan.
Desi, warga Bandar Lampung, mengaku mengalami sesak saat berkendara di luar rumah. Di Pesawaran, seorang anak mengalami mata perih dan hidung tidak nyaman setelah bermain di luar. Dampak abu vulkanik Lampung juga dirasakan Turman (65), warga Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.
“Debunya berwarna hitam dan membuat mata perih,” kata Turman.
Warga juga kesulitan mendapatkan masker di berbagai apotek dan ritel modern akibat lonjakan permintaan. Dinas Kesehatan Tanggamus telah membagikan sedikitnya 1.650 masker di sejumlah titik terdampak.
Bandara Radin Inten II Ditutup, 25 Penerbangan Batal
Dampak abu vulkanik Lampung juga mengganggu sektor penerbangan. Sebaran abu vulkanik di jalur penerbangan menyebabkan Bandara Internasional Radin Inten II ditutup dan 25 penerbangan dibatalkan.
General Manager Bandara Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, menyatakan penutupan bandara dilakukan setelah uji paper test menunjukkan hasil positif paparan abu vulkanik di area landasan. Penutupan berlaku hingga Senin (7/9) pukul 18.00 WIB. Sebanyak 3.054 calon penumpang terdampak pembatalan jadwal terbang.
Dampak abu vulkanik Lampung juga menyebabkan enam bandara ditutup sementara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara Bandung. AirNav Indonesia menetapkan peringatan merah (Colour Code Red Alert) karena abu vulkanik mencapai ketinggian 50.000 kaki.
Sementara itu, perjalanan kereta api di wilayah Divre IV Tanjungkarang tetap normal dan aman.
Hujan Abu Vulkanik Guyur Permukiman
Hujan abu vulkanik tebal mengguyur sejumlah pemukiman di Lampung. Lantai, teras, hingga pekarangan rumah warga tertutup lapisan debu halus berwarna gelap. Dampak abu vulkanik Lampung juga membuat abu masuk ke dalam rumah hingga mengotori perabotan.
Di Kabupaten Pesisir Barat, abu berwarna kehitaman dilaporkan terlihat di sejumlah kecamatan, termasuk Ngambur, Pesisir Tengah, Bengkunat hingga Penengahan. Warga melihat suasana di sekitar pantai berubah seperti berkabut akibat debu yang berada di udara.
“Seumur hidup tinggal di Bandar Lampung, baru kali ini merasakan ada debu Krakatau. Selama ini cuma dengar cerita,” ujar Eliyati (47), warga Sumberrejo.
Sejumlah orang tua memilih meminta anak-anak tetap berada di dalam rumah karena khawatir dampak abu vulkanik Lampung bagi kesehatan anak-anak. Pemerintah daerah juga mengeluarkan surat edaran agar kegiatan belajar dilakukan secara daring selama dua hari.
Pemerintah Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca
Pemerintah melakukan berbagai upaya penanganan dampak abu vulkanik Lampung:
1. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) — BNPB menggelar OMC Hybrid di Jakarta, Banten, dan Lampung untuk mengurai abu vulkanik. Dua metode digunakan: hujan buatan saat tersedia awan, dan water mist saat tidak ada pertumbuhan awan.
2. Penyemprotan Air — Pemerintah Kota Bandar Lampung melakukan penyemprotan air di sejumlah ruas jalan protokol yang terselimuti abu vulkanik.
3. Pembagian Masker — Dinas Kesehatan Tanggamus membagikan sedikitnya 1.650 masker di sejumlah titik terdampak.
4. Penutupan Sekolah — Pemerintah daerah mengeluarkan surat edaran agar kegiatan belajar dilakukan secara daring selama dua hari.
Gubernur Lampung mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika terpaksa keluar rumah. Masyarakat juga diminta menutup pintu, jendela, ventilasi, serta celah masuk udara lainnya untuk meminimalisir dampak abu vulkanik Lampung.
Warga Diimbau Tetap Waspada
Dampak abu vulkanik Lampung akibat erupsi Gunung Anak Krakatau masih terus berlangsung. Enam daerah terdampak, kualitas udara tidak sehat, bandara ditutup, dan ribuan warga mengalami gangguan kesehatan.
Pemerintah Provinsi Lampung mengimbau masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti informasi resmi dari BPBD Lampung, Pusdalops, dan instansi berwenang. Radius aman 5 kilometer dari Gunung Anak Krakatau juga ditetapkan bagi warga.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menjelaskan bahwa abu yang sudah mengendap di permukaan belum tentu berhenti bergerak. Kondisi kemarau membuat abu mudah mengering dan kembali terangkat ketika diterpa angin, sehingga dampak abu vulkanik Lampung masih berpotensi berlanjut.
“Ketika tidak ada hujan, debu itu menempel. Kalau ada panas, dia kembali kering dan terbawa lagi sama angin,” kata Suwarno.
Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
KabarNusa.my.id — Kabar Daerah untuk Indonesia.






