BANDUNGAN, KabarNusa.my.id — Candi Gedong Songo bukan sekadar tumpukan batu kuno. Ia adalah gerbang menuju masa lalu, tempat peradaban Mataram Kuno berbicara melalui lingga dan yoni, melalui ornamen yang telah berusia lebih dari seribu tahun. Di lereng Gunung Ungaran, pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, kompleks candi Hindu ini berdiri menghadap hamparan perbukitan yang berkabut, seolah menjaga rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.
Kabut yang turun pelan di lereng Gunung Ungaran selalu menyembunyikan rahasia masa lalu. Di balik pepohonan pinus yang menjulang dan udara pegunungan yang menggigit, berdiri Candi Gedong Songo—kompleks candi Hindu yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Jawa Kuno pada abad ke-8 Masehi. Kompleks ini bukan sekadar peninggalan arkeologi; ia adalah ruang hidup yang mempertemukan sejarah, spiritualitas, dan keindahan alam dalam satu bingkai yang utuh.
Candi Gedong Songo: Gerbang Peradaban Hindu di Lereng Ungaran
Candi Gedong Songo diperkirakan dibangun pada abad ke-7 hingga ke-9 Masehi pada masa Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno. Para ahli menempatkan pembangunan candi-candi ini pada periode yang sama dengan Candi Dieng, sehingga dianggap sebagai salah satu kompleks candi tertua di Jawa yang menandai permulaan arsitektur Hindu di Nusantara.
Nama “Gedong Songo” berasal dari bahasa Jawa: “Gedong” berarti rumah atau bangunan, dan “Songo” berarti sembilan. Jadi, Candi Gedong Songo berarti “sembilan bangunan”. Namun, seperti banyak situs purbakala lainnya, jumlah candi yang ditemukan dan masih berdiri tidak persis sembilan. Saat ini, hanya lima kelompok candi yang masih berdiri relatif utuh, sementara lainnya telah rusak dimakan usia.
Meski demikian, pesona Candi Gedong Songo tidak terletak pada kelengkapan jumlahnya. Ia terletak pada posisinya yang unik: tersebar di beberapa tingkatan lereng, seolah mengikuti jalur pendakian spiritual yang menanjak ke puncak penyatuan dengan para dewa.
Sejarah Penemuan: Dari Loten hingga Raffles
Keberadaan Candi Gedong Songo pertama kali diungkapkan oleh Loten pada tahun 1740 M. Pada masa awal penemuannya, Loten melaporkan keberadaan candi-candi ini kepada Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1804. Saat itu, Raffles hanya menemukan lima bangunan candi sehingga ia menyebutnya dengan nama Candi Gedong Pitu—”pitu” dalam bahasa Jawa berarti tujuh.
Setelah berbagai ekspedisi arkeologi dilakukan, terutama pada abad ke-19 dan 20, para peneliti akhirnya menemukan sembilan struktur yang tersebar di beberapa teras pegunungan. Penemuan kembali Candi Gedong Songo di era kolonial menjadi awal dari berbagai upaya pemugaran. Candi ini mengalami dua kali pemugaran, yaitu pada tahun 1928-1931 dan kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia.



Arsitektur dan Filosofi: Tiga Bagian yang Menyatukan Alam Manusia dan Dewa
Arsitektur Candi Gedong Songo memperlihatkan ciri khas masa awal Hindu Jawa. Bentuknya sederhana, tidak terlalu tinggi, dan dihiasi ornamen-ornamen minimalis yang menunjukkan fase transisi budaya India menuju karakter Jawa. Hampir seluruh candi dipersembahkan untuk Dewa Siwa, terlihat dari penemuan lingga–yoni dan arca-arca penjaga yang pernah menghiasi ruang-ruang suci di dalamnya.
Secara struktural, semua candi di Candi Gedong Songo terdiri dari tiga bagian utama:
-
Bagian bawah (alas candi) yang menggambarkan alam manusia
-
Bagian tengah candi yang menggambarkan alam yang menghubungkan alam manusia dan alam dewa
-
Bagian atas (puncak candi) yang menggambarkan alam para dewa
Filosofi ini mencerminkan konsep kosmologi Hindu-Jawa yang memandang kehidupan sebagai perjalanan menuju kesatuan dengan Sang Pencipta. Temuan arkeologis lainnya—seperti fragmen arca, batu candi, hingga saluran air kuno—menunjukkan bahwa kawasan ini dulunya merupakan pusat kegiatan ritual yang cukup kompleks.
Pesona Alam dan Fasilitas Wisata
Candi Gedong Songo terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, kawasan candi menghadirkan udara sejuk khas pegunungan. Hamparan perbukitan yang terlihat dari kejauhan menambah daya tarik wisatawan yang berkunjung.
Kompleks Candi Gedong Songo cukup luas dengan jarak antar candi yang terbilang jauh. Wisatawan perlu menyiapkan stamina apabila ingin berkeliling dengan berjalan kaki. Namun, tidak perlu khawatir karena tersedia jasa sewa kuda untuk membantu berkeliling kawasan. Harga sewa kuda berada di kisaran Rp70.000-Rp110.000, tergantung jarak tempuh.
Baca juga:
Tambusu Bukit Tinggi vs Daechang Korea: Siapa Juara Kuliner Usus Sapi?
Pesona Raja Ampat: Surga di Timur Indonesia dan Rincian Biaya dari Jakarta
Fasilitas pendukung di kawasan ini meliputi area parkir, toilet, musala, pasar UMKM, serta sejumlah spot foto.
Informasi kunjungan:
-
Lokasi: Jalan Ke Candi Gedong Songo, Krajan, Banyukuning, Bandungan, Kabupaten Semarang
-
Jam buka: 07.00-17.00 WIB setiap hari
-
Tiket masuk domestik: Rp15.000 per orang
-
Tiket masuk mancanegara: Rp75.000 per orang
-
Akses: Sekitar satu jam perjalanan dari Kota Semarang
Misteri Kawah Belerang dan Sumber Air Panas
Di jalur menuju kompleks Candi Gedong Songo, pengunjung dapat menjumpai kawah belerang yang berada di antara Gedong 3 dan Gedong 4. Keberadaan sumber air panas alami di area sekitar candi memperkuat dugaan bahwa kawasan ini juga digunakan untuk upacara penyucian diri, sebagaimana lazim dalam ajaran Siwa.
Kawah belerang ini bukan sekadar fenomena geologis. Ia adalah bagian dari narasi spiritual Candi Gedong Songo—bukti bahwa leluhur Jawa Kuno memilih lokasi ini bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena energi yang terkandung di dalam bumi.
Ancaman Geotermal: Ketika Warisan Bertemu Energi
Di balik ketenangan Candi Gedong Songo, tersimpan sebuah konflik yang hingga kini belum usai. Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran disebut-sebut sebagai proyek penenggelaman candi oleh sebagian kalangan.
Perwakilan dari Aliansi Semar Gugat, Rahman (65), menyebut bahwa pengerjaan PLTP Gunung Ungaran bisa saja menenggelamkan Candi Gedong Songo karena Gunung Ungaran memiliki situs candi tersebut.
“Kami melihat proyek ini penenggelaman candi. Bayangkan daerah yang di bor itu bawahnya keropos.” — Rahman, Perwakilan Aliansi Semar Gugat
Ia khawatir proses pengeboran panas bumi tersebut bisa menimbulkan bencana seperti Lumpur Lapindo Sidoarjo. Ia menilai, situs Candi Gedong Songo tidak sekadar situs. Lebih dari itu, situs itu telah menjadi sumber penghidupan warga melalui sektor wisatanya.
“Warisan budaya dari abad ke-8 atau 9 itu sudah memberikan makan ke banyak orang yang harus dijaga, bukan untuk dibangun proyek.” — Rahman
Di sisi lain, Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi pada Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono, membantah proyek geotermal Gunung Ungaran bakal merusak candi. Ia mencontohkan Dieng, di mana geotermal dan candi tetap berdampingan.
“Contohnya Dieng, di sana ada geotermal dan candinya masih ada.” — Dwi Suryono
Ia menambahkan bahwa proyek geotermal akan melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang melibatkan pakar lintas ilmu, termasuk ahli geologi dan budaya.
Festival Gedongsongo: Menghidupkan Kembali Tradisi
Sejak 2017, Festival Gedongsongo diselenggarakan secara rutin tahunan sebagai event unggulan Kabupaten Semarang. Festival ini mengangkat kearifan lokal kawasan Candi Gedong Songo dan sekitarnya, yaitu tradisi budaya ritual Jamasan Reresik Candi dan atraksi kesenian tradisional.
Sempat vakum dua tahun karena pandemi Covid-19, festival ini kembali digelar pada 2024 dengan format baru yang lebih meriah, dimeriahkan dengan Festival Lampion dan pertunjukan musik dengan bintang tamu artis nasional.
Pada Festival Gedongsongo 2026 yang digelar pada Sabtu, 4 Juli 2026, Niken Salindry didapuk sebagai bintang tamu. Ribuan warga dan wisatawan memadati kompleks Candi Gedong Songo untuk menyaksikan puncak acara. Festival ini menjadi bukti bahwa Candi Gedong Songo bukan sekadar situs mati, melainkan ruang hidup yang terus bernapas.
Warisan yang Menanti Penjaga
Candi Gedong Songo adalah cermin dari perjalanan panjang sebuah peradaban. Dari masa kejayaan Mataram Kuno, melewati era kolonial, hingga kini menghadapi ancaman geotermal, ia tetap berdiri—megah namun rentan.
Di lereng Gunung Ungaran, di antara kabut yang turun pelan dan kicauan burung hutan, Candi Gedong Songo menanti. Ia menanti para penjaga: mereka yang datang untuk belajar, mereka yang datang untuk berwisata, dan mereka yang datang untuk memastikan bahwa warisan ini tidak hilang ditelan zaman.
Candi Gedong Songo bukan hanya milik Jawa Tengah. Ia adalah milik Indonesia. Dan seperti semua warisan, ia layak dijaga—bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang belum lahir.













