JAKARTA, KabarNusa.my.id — Listrik bukan sekadar cahaya yang mengusir gelap. Ia adalah nadi peradaban, penggerak ekonomi, dan simbol kedaulatan sebuah bangsa. Memasuki peringatan sejarah Hari Listrik Nasional ke-81 pada 27 Oktober 2026, kita diajak menengok ke belakang, menelusuri jejak perjuangan para pemuda dan buruh listrik yang merenggut kendali aset strategis dari tangan penjajah.
Sejarah Hari Listrik Nasional ke-81 bukanlah sekadar catatan tentang mesin dan kabel. Ia adalah kisah tentang keberanian, diplomasi, dan tekad untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Sejarah Hari Listrik Nasional ke-81: Nyala yang Lahir dari Semangat Kemerdekaan
Perjalanan kelistrikan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari momen Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan, tantangan besar langsung menghadang: mengambil alih semua aset dan infrastruktur yang selama ini dikuasai oleh militer Jepang.
Di sektor ketenagalistrikan, perusahaan listrik dan gas berada dalam cengkeraman tentara pendudukan. Namun, semangat nasionalisme membara. Para pemuda, buruh listrik, dan elemen masyarakat bergerak cepat. Mereka melakukan pengambilalihan secara fisik dan administratif.
Inilah fondasi dari sejarah Hari Listrik Nasional ke-81—sebuah revolusi di sektor energi yang berjalan seiring dengan revolusi politik bangsa.

Jejak Langkah 27 Oktober 1945
Mengutip dari berbagai literatur sejarah ketenagalistrikan, kronologi perjuangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahapan krusial:
-
September 1945: Delegasi buruh listrik dan gas menemui Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Mereka menyerahkan pengelolaan perusahaan listrik dan gas yang telah berhasil diambil alih dari Jepang kepada Pemerintah Indonesia.
-
Penetapan Pemerintah No. 1 Tahun 1945: Sebagai tindak lanjut, pada tanggal 27 Oktober 1945, pemerintah secara resmi mengeluarkan penetapan tersebut.
-
Lahirnya Jawatan Listrik dan Gas: Penetapan ini menandai berdirinya Jawatan Listrik dan Gas di bawah naungan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga.
Tanggal 27 Oktober itulah yang kemudian diabadikan sebagai Hari Listrik Nasional. Sebuah tanggal yang menandai berakhirnya dominasi asing di sektor kelistrikan dan dimulainya pengelolaan oleh putra-putri Indonesia.
Dari Jawatan Listrik dan Gas Menuju PLN
Jika kita melihat sejarah Hari Listrik Nasional ke-81, kita akan menyadari bahwa perjalanan kelembagaan pengelola listrik negara mengalami evolusi yang panjang.
Jawatan Listrik dan Gas yang dibentuk pada 1945 terus bertransformasi mengikuti dinamika zaman. Dari sebuah jawatan di bawah departemen, ia berkembang menjadi Perusahaan Negara (PN), lalu berubah menjadi Perusahaan Umum (Perum), hingga akhirnya bertransformasi menjadi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau yang kita kenal sebagai PLN.
Transformasi ini bukan tanpa alasan. Kebutuhan listrik nasional yang terus melesat menuntut organisasi yang lebih profesional, lincah, dan mampu beradaptasi dengan teknologi. Hari ini, PLN adalah salah satu BUMN terbesar di Indonesia yang menaungi puluhan entitas anak dan cucu perusahaan, termasuk di dalamnya entitas layanan operasi dan pemeliharaan seperti Haleyora Powerindo.
Menarik untuk di baca :
Olahraga Hari Listrik Nasional ke-81 Haleyora Powerindo: 8 Cabang Bersaing Ketat
Haleyora Powerindo di Persimpangan Hari Listrik Nasional ke-81: Akankah Dilepas?
Legitimasi Pemerintah dan Penetapan HLN
Meski peristiwa bersejarahnya terjadi pada 1945, penetapan 27 Oktober sebagai Hari Listrik Nasional secara formal baru diperkuat kemudian.
Pada tahun 1992, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1134/43/MPE/1992, secara resmi menetapkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Listrik Nasional. Penetapan ini menjadi pengingat tahunan bagi seluruh insan ketenagalistrikan akan tanggung jawab besar yang mereka emban.
HLN ke-81 (2026): Energi untuk Semua, Kemandirian bagi Indonesia
Memasuki usia ke-81, peringatan HLN pada tahun 2026 mengusung tema “Energi untuk Semua, Kemandirian bagi Indonesia”.
Tema ini sangat relevan dengan konteks kekinian. Sejarah Hari Listrik Nasional ke-81 adalah tentang perjuangan mengambil alih kedaulatan. Kini, perjuangan itu berevolusi menjadi upaya mencapai kemandirian energi.
Pemerintah dan PLN saat ini tengah gencar mendorong transisi energi menuju sumber daya terbarukan, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, dan memastikan keadilan akses listrik hingga ke pelosok 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Rasio elektrifikasi nasional yang telah menembus angka 99% adalah capaian luar biasa, namun tantangan ke depan adalah menjaga keandalan dan membuatnya berkelanjutan.
Di sisi lain, transformasi korporasi melalui program streamlining (perampingan entitas) yang tengah berjalan di tubuh PLN Group adalah bagian dari ikhtiar agar perusahaan lebih efisien dan mampu bersaing di kancah global. Hal ini sejalan dengan semangat kemandirian yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.
Menatap Masa Depan Transisi Energi
Sejarah Hari Listrik Nasional ke-81 mengajarkan kita bahwa cahaya yang menyala di rumah-rumah rakyat Indonesia hari ini adalah hasil dari perjuangan panjang. Ia lahir dari semangat para pemuda di tahun 1945 yang berani mengambil risiko demi kedaulatan negara.
Kini, estafet itu telah berpindah ke tangan generasi saat ini. Tantangannya mungkin berbeda—bukan lagi mengusir penjajah, melainkan memerangi perubahan iklim dan mewujudkan transisi energi yang berkeadilan. Namun, semangatnya harus tetap sama: pantang menyerah, inovatif, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
Selamat Hari Listrik Nasional ke-81. Terus menyala untuk negeri, menerangi masa depan Indonesia!








