, , , ,

Tjong A Fie Medan Testamen: Wasiat Kemanusiaan Sang Kapitan China yang Terlupakan

oleh -77 Dilihat
oleh
Tjong A Fie lahir pada tahun 1860 di Distrik Meixian, Guangdong, Tiongkok, dengan nama Tjong Fung Nam. Ia berasal dari keluarga sederhana.

MEDAN, KabarNusa.my.id — Tjong A Fie Medan testamen adalah saksi bisu kejayaan sekaligus jiwa besar seorang saudagar yang namanya harum jauh sebelum Indonesia merdeka. Di jantung Kota Medan, sebuah bangunan dua lantai berdiri megah di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kesawan. Catnya masih terawat, arsitekturnya memadukan gaya Tionghoa, Melayu, dan Eropa.

Namun, di balik kemegahan rumahnya, ada satu dokumen yang jauh lebih berharga daripada seluruh perabot dan bangunannya: Tjong A Fie Medan testamen. Sebuah wasiat yang tidak hanya membagi harta, tetapi juga menanamkan benih kemanusiaan yang melampaui batas suku, agama, dan bangsa.

Tjong A Fie Medan Testamen: Warisan yang Melampaui Zaman

Tjong A Fie lahir pada tahun 1860 di Distrik Meixian, Guangdong, Tiongkok, dengan nama Tjong Fung Nam. Ia berasal dari keluarga sederhana. Pada usia 17 atau 20 tahun, ia memutuskan merantau mengikuti jejak kakaknya, Tjong Yong Hian, ke Pelabuhan Deli, Sumatra.

Ketika tiba, ia hanya membawa uang yang sangat sedikit. Ia bekerja serabutan, mulai dari toko kelontong hingga kebun tembakau. Namun, kerja keras dan kecerdasannya membawanya ke lingkaran penguasa. Ia membangun hubungan baik dengan pemerintah kolonial Belanda dan Kesultanan Deli.

Pada tahun 1911, Tjong A Fie diangkat menjadi Kapitan China (Majoor der Chineezen) untuk Medan, menggantikan kakaknya yang telah wafat. Jabatan ini menjadikannya pemimpin komunitas Tionghoa, sekaligus penengah antara masyarakat Tionghoa, pemerintah Belanda, dan Kesultanan Deli.

Membangun Kerajaan Bisnis dari Nipah hingga Kereta Api

Kesuksesan Tjong A Fie tidak datang tiba-tiba. Ia memulai dengan konsesi menyediakan atap daun nipah untuk perkebunan tembakau. Dari situ, bisnisnya berkembang pesat. Ia memiliki perkebunan karet, tembakau, teh, dan kelapa sawit yang luas, dengan lebih dari 10.000 pekerja.

Tjong A Fie juga melebarkan sayap ke sektor pertambangan, perbankan, dan infrastruktur. Ia mendirikan Bank Deli dan Bank Batavia. Bersama kakaknya dan pengusaha Penang Cheong Fatt Tze, ia membangun Chao Chow & Swatow Railway, jalur kereta api pertama di Tiongkok.

Kekayaannya melimpah. Namun, bagi Tjong A Fie, kekayaan bukanlah tujuan akhir. Ia percaya bahwa uang yang ia peroleh dari masyarakat harus dikembalikan kepada masyarakat.

Kapitan China: Jembatan Antara Tiga Dunia

Sebagai Kapitan China, Tjong A Fie memainkan peran yang sangat strategis. Ia tidak hanya melindungi kepentingan komunitas Tionghoa, tetapi juga menjadi jembatan antara masyarakat Tionghoa, pemerintah kolonial Belanda, dan Kesultanan Deli.

Kedekatannya dengan Sultan Deli, Makmun Al Rasjid, sangat erat. Ia bahkan dipercaya menangani urusan bisnis kesultanan. Kedekatan ini pula yang membuatnya berkontribusi besar dalam pembangunan Masjid Raya Al-Mashun pada 1906-1909. Tjong A Fie menyumbang sepertiga dari total dana pembangunan masjid tersebut.

Tindakan ini menunjukkan bahwa bagi Tjong A Fie, toleransi bukanlah sekadar wacana. Ia adalah praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pada 20 Oktober 1920, sekitar empat bulan sebelum wafat, Tjong A Fie memanggil notaris Dirk Johan Focquin de Grave ke rumahnya. Di hadapan notaris, ia membacakan testamen yang kelak menjadi salah satu dokumen paling menginspirasi dalam sejarah Medan.

Testamen Tjong A Fie: Wasiat Kemanusiaan yang Melampaui Zaman

Pada 20 Oktober 1920, sekitar empat bulan sebelum wafat, Tjong A Fie memanggil notaris Dirk Johan Focquin de Grave ke rumahnya. Di hadapan notaris, ia membacakan testamen yang kelak menjadi salah satu dokumen paling menginspirasi dalam sejarah Medan.

Wasiat itu bukan tentang pembagian harta kepada ahli waris semata. Tjong A Fie memutuskan bahwa seluruh kekayaannya—baik yang ada di Sumatra maupun di luar Sumatra—diwariskan kepada sebuah yayasan yang harus didirikan di Medan dan Sungkow (kampung halamannya di Tiongkok), yaitu Yayasan Toen Moek Tong.

Keputusan ini luar biasa. Seorang taipan dengan kekayaan luar biasa memilih untuk tidak mempertahankan hartanya bagi keluarga semata, melainkan menyerahkannya untuk dikelola demi kepentingan publik.

Lima Pesan untuk Yayasan Toen Moek Tong

Dalam testamennya, Tjong A Fie merinci lima amanat yang harus dijalankan oleh Yayasan Toen Moek Tong. Dua di antaranya menyangkut urusan keluarga, sementara tiga lainnya adalah amanat kemanusiaan yang melampaui batas identitas.

Berikut isi lengkap testamen Tjong A Fie sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Belanda:

1. Merawat kuil nenek moyang dan membiayai upacara peringatan serta upacara keagamaan leluhur Tjong A Fie.

2. Mengadakan perawatan serta memajukan pendidikan dan pelajaran bagi anak-anak keturunan Tjong A Fie laki-laki, dalam derajat yang tidak terbatas.

3. Memberikan tunjangan keuangan kepada kaum muda yang berbobot dan berkelakuan baik, tanpa membedakan golongan, ras, atau bangsa, yang memerlukan bantuan untuk melanjutkan dan menyempurnakan pendidikan mereka.

4. Memberikan sedekah atau santunan kepada mereka yang berkepentingan, tanpa membedakan golongan bangsa, yang karena cacat badan, kebutaan, penyakit panjang, atau penyakit lain tidak mampu menghidupi diri sendiri.

5. Meringankan beban kerugian yang diderita oleh orang-orang, tanpa membedakan golongan bangsa, sebagai akibat dari bencana-bencana alam.

Amanat ketiga, keempat, dan kelima inilah yang membuat testamen Tjong A Fie begitu istimewa. Ketiganya secara eksplisit menyebutkan “tanpa membedakan golongan bangsa.” Dalam konteks awal abad ke-20, ketika kolonialisme dan diskriminasi rasial masih menjadi norma, pernyataan seperti ini adalah sebuah revolusi moral.

Warisan yang Tak Pernah Mati

Tjong A Fie wafat pada 8 Februari 1921 di Medan karena perdarahan otak. Ia meninggal pada usia 61 tahun. Berita duka itu menyebar cepat. Ribuan pelayat datang dari berbagai kota—Aceh, Padang, Penang, Malaya, Singapura, dan kota-kota di Pulau Jawa. Upacara pemakamannya berlangsung megah, sesuai dengan kedudukannya sebagai tokoh besar kota Medan.

Sayangnya, setelah ia tiada, pengelolaan yang buruk dan depresi ekonomi dunia menghancurkan seluruh perusahaan peninggalannya. Namun, testamen Tjong A Fie tetap hidup dalam ingatan kolektif kota Medan. Namanya terus dikenang, bukan hanya oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga Melayu, India, dan berbagai kalangan lainnya.

Hari ini, Tjong A Fie Mansion telah menjadi museum yang terbuka untuk umum sejak 2009. Di dalamnya, surat wasiat itu masih terpampang, menjadi saksi bisu dari seorang lelaki yang memahami bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang kita bawa mati, melainkan apa yang kita tinggalkan untuk kemanusiaan.

Mengingat Kembali Sang Dermawan

Di tengah hiruk-pikuk Kota Medan modern, nama Tjong A Fie mungkin tidak lagi sering terdengar di percakapan sehari-hari. Namun, jejaknya ada di mana-mana: Masjid Raya Al-Mashun, Gereja Immanuel, Rumah Sakit Tiong Hwa, dan tentu saja, Tjong A Fie Mansion itu sendiri.

Testamen Tjong A Fie adalah pengingat bahwa di balik kekayaan yang melimpah, ada tanggung jawab moral yang jauh lebih besar. Ia mengajarkan bahwa toleransi bukanlah kata benda yang pasif, melainkan tindakan aktif yang harus diwujudkan dalam kebijakan, dalam sedekah, dan dalam wasiat.

Mungkin, di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh identitas, kita perlu kembali membaca testamen Tjong A Fie. Sebab di sana, tertulis dengan jelas: tolonglah mereka yang membutuhkan, tanpa membedakan golongan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.