, , , , , , , , , ,

Nasib Pelita Air di Tengah Merger dengan Garuda: Akankah Bertahan atau Ikut Ditutup Danantara?

oleh -205 Dilihat
oleh
Pelita Air, yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero), direncanakan untuk digabungkan ke dalam Garuda Indonesia. Rencana ini merupakan bagian dari strategi Danantara dan BP BUMN untuk menjadikan Garuda sebagai holding maskapai BUMN.KabarNusa.my.id

KabarNusa.my.id. Jakarta.Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terus melakukan perampingan besar-besaran terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kebijakan ini menyasar perusahaan-perusahaan pelat merah yang terus merugi dan dianggap tidak produktif.

Di tengah kebijakan penutupan massal tersebut, nasib Pelita Air merger Garuda menjadi sorotan utama. PT Garuda Indonesia yang selama puluhan tahun merugi kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Sementara itu, anak usahanya Citilink telah mencatatkan kinerja positif. Lantas, bagaimana nasib Pelita Air yang direncanakan akan digabung ke dalam Garuda? Akankah ia menjadi bagian dari kebangkitan, atau justru ikut tenggelam?

Kebijakan Danantara: Perampingan BUMN Terbesar dalam Sejarah

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengungkapkan keterkejutannya saat mengetahui jumlah BUMN di Indonesia mencapai sekitar 1.074 perusahaan bila dihitung bersama anak dan cucu usahanya. Ia menilai banyak di antaranya tidak efisien dan hanya menjadi beban keuangan negara.

“Ketika kita bentuk Danantara, kita menemukan 1.074 BUMN beserta anak dan cucu usahanya. Terlalu banyak yang tidak produktif. Terlalu banyak lapisan direksi dan komisaris.” — Presiden Prabowo Subianto

Hingga pertengahan Agustus 2026, pemerintah telah menutup 290 BUMN yang tidak produktif. Target akhir tahun 2026 adalah menyisakan paling banyak 300 BUMN, yang berarti lebih dari 750 BUMN akan ditutup sepanjang tahun ini.

Kebijakan penutupan ini menghasilkan penghematan biaya overhead sekitar Rp50 triliun per tahun. Penghematan berasal dari berkurangnya gaji direksi dan komisaris, sewa gedung, sewa mobil, dan biaya perjalanan dinas yang dinilai tidak produktif. Dengan perampingan lebih lanjut, pemerintah menargetkan penghematan mendekati Rp70 hingga Rp80 triliun pada akhir 2026.

Danantara, sebagai lembaga pengelola investasi, diproyeksikan menjadi salah satu sovereign wealth fund terbesar di dunia yang mampu mendanai proyek-proyek strategis tanpa harus bergantung pada utang luar negeri.

Garuda Indonesia: Dari Kerugian Puluhan Tahun Menuju Target Pemulihan

PT Garuda Indonesia, sebagai maskapai penerbangan nasional, telah menjadi salah satu fokus utama restrukturisasi Danantara. Maskapai ini sebelumnya mencatatkan kerugian yang sangat besar akibat banyaknya pesawat yang grounded dan biaya sewa yang tinggi.

Untuk menyelamatkan Garuda, Danantara menggelontorkan dana segar yang signifikan pada akhir 2025. Hasilnya mulai terlihat pada tahun 2026. Garuda berhasil menekan rugi bersih hingga 45,2% menjadi **US$41,62 juta** pada kuartal I/2026, dibandingkan US$75,93 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan operasional konsolidasi tumbuh 5,36% menjadi US$762,35 juta.

Beberapa indikator positif lainnya:

  • Lalu lintas penumpang naik 6,76% year-on-year menjadi 5,42 juta penumpang

  • Frekuensi penerbangan meningkat 5,87% menjadi 19.337 penerbangan

  • Ketepatan waktu (on-time performance) meningkat dari 87,93% menjadi 91,01%

  • Sebanyak 27 pesawat yang sebelumnya grounded berhasil diterbangkan kembali

Presiden Prabowo menargetkan Garuda akan mulai meraih keuntungan berkelanjutan pada tahun 2026.

Citilink: Anak Usaha yang Bersinar di Tengah Badai

Di tengah upaya pemulihan Garuda yang masih berlangsung, anak usahanya, Citilink, justru mencatatkan kinerja yang cemerlang. Maskapai berbiaya rendah ini dipastikan telah mencatatkan hasil keuangan positif.

Beberapa pencapaian Citilink:

  • Mencatat rekor penumpang harian tertinggi 48.000 penumpang pada 29 Maret 2026

  • Selama periode 14-29 Maret 2026, mengangkut lebih dari 600.000 penumpang

  • Hingga akhir Juni 2026, mengoperasikan 43 armada, meningkat dari 25 armada pada periode yang sama tahun sebelumnya

  • Rata-rata penerbangan harian mencapai 221 penerbangan, naik 21% dibandingkan semester II/2025

  • Dinobatkan sebagai maskapai paling tepat waktu di Asia Tenggara pada Februari 2026

Keberhasilan Citilink tidak lepas dari berbagai langkah strategis yang diambil, termasuk debt-to-equity swap yang membuat struktur permodalan menjadi lebih sehat.

Garuda Indonesia: Dari Kerugian Puluhan Tahun Menuju Target Pemulihan Citilink: Anak Usaha yang Bersinar di Tengah Badai.KabarNusa.my.id

Nasib Pelita Air di Tengah Rencana Merger dengan Garuda

Di tengah kebijakan penutupan BUMN yang merugi dan upaya pemulihan Garuda, muncul pertanyaan besar: bagaimana nasib Pelita Air?

Pelita Air, yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero), direncanakan untuk digabungkan ke dalam Garuda Indonesia. Rencana ini merupakan bagian dari strategi Danantara dan BP BUMN untuk menjadikan Garuda sebagai holding maskapai BUMN.

Status Merger: Masih dalam Tahap Kajian

Meski rencana merger telah diumumkan pada Juli 2026, hingga saat ini proses tersebut masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan. Manajemen Garuda menyatakan bahwa mereka masih mengkaji dampak merger terhadap kegiatan operasional dan kinerja keuangan.

Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, Andreas Tumpal H. Hutapea, menyatakan:

“Rencana konsolidasi yang melibatkan Garuda Indonesia Group dan Pelita Air saat ini masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan pada tingkat pemegang saham dan bersama para pihak terkait.”

Hingga Agustus 2026, belum terdapat keputusan final terkait bentuk maupun mekanisme konsolidasi antara Garuda Indonesia Group dan Pelita Air.

Potensi Skenario Nasib Pelita Air

Melihat kebijakan Danantara yang tegas terhadap BUMN merugi, nasib Pelita Air akan sangat bergantung pada hasil kajian merger. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

1. Bergabung ke Garuda dan Ikut Bangkit

Jika merger terealisasi, Pelita Air akan menjadi bagian dari Grup Garuda. Dengan suntikan modal dan sinergi operasional, Pelita Air berpotensi ikut merasakan pemulihan yang sedang dialami Garuda. Danantara meyakini konsolidasi ini akan memperkuat kapasitas grup dalam menghadapi persaingan industri penerbangan.

2. Diintegrasikan ke dalam Citilink

Ada kemungkinan Pelita Air tidak digabung langsung ke Garuda, melainkan diintegrasikan ke Citilink untuk memperkuat segmen LCC (Low-Cost Carrier) Garuda Group.

3. Tetap Bertahan sebagai Entitas Tersendiri

Jika merger batal atau tertunda, Pelita Air harus mampu menunjukkan kinerja keuangan yang sehat untuk terhindar dari kebijakan penutupan.

4. Ditutup Jika Tidak Produktif

Jika proses kajian berkepanjangan dan Pelita Air tidak menunjukkan kinerja keuangan yang sehat, ia berisiko menjadi salah satu dari ratusan BUMN yang harus ditutup karena dianggap tidak efisien.

Analisis: Tantangan Holding Maskapai BUMN ke Depan

Rencana pembentukan holding maskapai BUMN dengan Garuda sebagai induknya adalah langkah strategis untuk menciptakan ekosistem penerbangan nasional yang lebih kuat dan kompetitif. Namun, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi:

Tantangan Deskripsi
Integrasi Operasional Menggabungkan dua maskapai dengan budaya dan sistem operasional yang berbeda bukanlah pekerjaan mudah
Efisiensi Biaya Holding harus mampu menciptakan efisiensi biaya yang signifikan di tengah persaingan ketat dengan maskapai asing
Peningkatan Layanan Danantara dan BP BUMN mendorong Garuda untuk meningkatkan layanan di semua tahap, dari pre-flight hingga post-flight
Kepatuhan Target Perampingan Presiden Prabowo menargetkan jumlah BUMN hanya tersisa 200-350 perusahaan pada akhir 2026

COO Danantara Dony Oskaria menekankan bahwa industri penerbangan membutuhkan ketelitian tinggi dan pengambilan keputusan yang cepat:

“Industri yang membutuhkan ketelitian, yang harus dikelola day by day, minute by minute, adalah industri penerbangan. Begitu pesawat terbang, kita sudah bisa mengukur untung atau ruginya satu penerbangan.”

Kebijakan perampingan BUMN yang digalakkan Danantara di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah membawa angin perubahan besar bagi perusahaan-perusahaan pelat merah di Indonesia. Garuda Indonesia, yang selama puluhan tahun merugi, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan berkat suntikan modal dan transformasi bisnis. Citilink, anak usahanya, bahkan telah mencatatkan kinerja positif.

Sementara itu, nasib Pelita Air di tengah rencana merger dengan Garuda masih menggantung. Jika merger terealisasi dan berhasil, Pelita Air berpotensi menjadi bagian dari kebangkitan industri penerbangan nasional. Namun, jika tidak, ia bisa menjadi salah satu dari ratusan BUMN yang harus ditutup karena dianggap tidak efisien.

Yang jelas, transformasi besar-besaran ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menciptakan BUMN yang sehat, efisien, dan mampu memberikan nilai tambah bagi rakyat Indonesia.

Artikel ini diterbitkan oleh KabarNusa.my.id — Kabar Daerah untuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.