Banjir Galodo Solok Terjang Arosuka: Pusat Pemerintahan Terbenam Lumpur, Dua Warga Masih Dicari

oleh -33 Dilihat
oleh
Warga berdiri di depan rumhanya saat membersihkan lumpur pascabanjir bandang dan tanah longsor di Muaro Pingai, Kabupaten Solok, Minggu (7/12/2025). Dalamnya material lumpur dan banyaknya kayu gelondongan yang hanyut terbawa banjir bandang membuat warga kesulitan untuk membersihkan rumah dan barang-barang yang tersisa. ANTARA FOTO/Wawan Kurniawan/mrh/nz

AROSUKA, KabarNusa.my.id — Banjir galodo Solok menerjang kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Solok di Arosuka pada Senin malam, 21 September 2026. Air bah yang datang selepas waktu Isya itu membawa material lumpur, batu, pasir, dan kayu, menimbun kompleks perkantoran Bupati Solok serta permukiman warga di sekitarnya.

Bencana banjir galodo Solok terjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Luapan air dari Sungai Batang Baliang dan Sungai Batang Laso mengikis kaki bukit di sepanjang aliran, memicu longsoran yang bergerak menuju kawasan pemukiman dan pusat pemerintahan.

Dalam rekaman video yang beredar, warga terlihat panik berhamburan mencari tempat aman saat arus banjir menerjang kawasan Arosuka. Material galodo bahkan masuk ke dalam bangunan kantor, membuat batu-batu berserakan di dalam Kompleks Kantor Bupati Solok.

Banjir Galodo Solok: Malam Ketika Sungai Batang Baliang Mengamuk

Banjir galodo Solok dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Solok sejak Sabtu, 19 September 2026. Hujan deras disertai angin kencang membuat debit air sungai meningkat drastis hingga meluap tak terbendung.

Sekretaris BPBD Sumbar, Ilham, membenarkan peristiwa tersebut setelah menerima laporan tak lama usai waktu shalat Isya.

“Ya, benar. Kondisinya saat ini banyak material lumpur, kayu-kayu. Kabarnya ada satu jembatan yang putus.” — Ilham, Sekretaris BPBD Sumbar

Galodo melanda dua nagari utama: Nagari Batang Barus dan Nagari Koto Gaek Guguk, keduanya di Kecamatan Gunung Talang. Aliran air yang membesar berasal dari kawasan Sungai Batang Laso, kemudian mengikis bagian kaki bukit di sepanjang aliran sungai dan memicu longsoran yang bergerak menuju kompleks perkantoran Pemkab Solok.


Advertisement
Advertisement
Sumatera
Galodo Terjang Kompleks Kantor Bupati Solok
Tim Redaksi
Dipublikasikan Selasa, 22 Sep 2026 | 10:12 WIB
Masyarakat berkumpul di depan gerbang Kompleks Kantor Bupati Solok, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang yang diterjang galado, Senin (21/9/2026). (GWA INFO LANTAS SUMBAR)
Masyarakat berkumpul di depan gerbang Kompleks Kantor Bupati Solok, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang yang diterjang galado, Senin (21/9/2026)

Pusat Pemerintahan Terbenam Lumpur, Jalan Nasional Putus Total

Banjir galodo Solok tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga melumpuhkan pusat pemerintahan Kabupaten Solok. Sebanyak 11 kantor pemerintahan terdampak material longsor dengan ketebalan timbunan mencapai puluhan sentimeter.

Beberapa kantor yang terdampak parah antara lain:

  • Kantor Dinas PUPR — tertimbun material sekitar 30 sentimeter

  • Kantor DPRD Kabupaten Solok — tertimbun sekitar 60 sentimeter

  • Kantor Bapenda dan Bapelitbang — masing-masing tertimbun sekitar 40 sentimeter

  • Kantor Dinas Kesehatan, Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian — tertimbun sekitar 40 sentimeter

  • Kantor Inspektorat Daerah dan BKPSDM — terdampak timbunan material

Bupati Solok, Jon Firman Pandu, menyatakan hampir seluruh kawasan perkantoran di kompleks Kantor Bupati Solok terdampak terjangan galodo. Sejumlah peralatan kantor dilaporkan terbawa arus air hingga keluar dari ruangan.

Dampak banjir galodo Solok juga meluas hingga Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Solok dengan Padang. Material batu dan lumpur menutup badan jalan sehingga kendaraan dari kedua arah tidak dapat melintas. Akses jalan Padang-Solok terputus total.

Kasat Lantas Polres Solok, Iptu Akbar Kharisma Tanjung, mengimbau pengendara yang hendak menuju Padang dari Solok maupun sebaliknya untuk menggunakan jalur alternatif sementara melalui Padang Panjang .

Empat Warga Luka, Dua Masih Dicari, Sembilan Keluarga Mengungsi

Hingga Selasa pagi, 22 September 2026, BPBD Kabupaten Solok mencatat empat warga mengalami luka-luka akibat banjir galodo Solok . Tiga korban dirawat di RSUD Arosuka, sedangkan satu korban dirujuk ke Semen Padang Hospital (SPH) di Kota Padang.

Korban luka ringan antara lain Muslihat (54), warga Kediri, yang menjalani rawat jalan di RSUD Arosuka; Anggiat Sirait (66), warga Koto Gaek Guguk, yang menjalani observasi pascatrauma; serta Yurnalis (45), warga Jorong Kayu Aro, yang mengalami sakit pada tangan kiri dan kaki setelah dihantam galodo. Sementara itu, Muhammad Nur Zen (56), ASN PPPK pada Bagian Umum Setda Kabupaten Solok, mengalami luka berat berupa fraktur pada alat gerak bawah disertai perdarahan.

Komandan Posko Galodo Solok, Indra Mukhsis, menyatakan dua warga masih belum ditemukan hingga Selasa. Keduanya bernama Dafa (21) dan Agusra (59), yang diketahui berada di Jorong Kayu Aro saat banjir galodo Solok terjadi.

“Data yang kami himpun di posko, kami mendapat informasi dua orang belum ditemukan. Yang belum ditemukan pertama atas nama Dafa, 21 tahun, dan Agusra, umur 59 tahun.” — Indra Mukhsis, Komandan Posko Galodo Solok

Sebanyak sembilan keluarga atau 32 jiwa terpaksa mengungsi akibat bencana ini. Para pengungsi ditempatkan di dua lokasi aman yang disiapkan pemerintah daerah, termasuk rumah dinas Wakil Bupati Solok.

Selain korban jiwa, banjir galodo Solok juga merusak 21 unit mobil dan tujuh unit sepeda motor di lokasi kejadian. Dua kendaraan sempat terjebak material longsor, terdiri dari satu mobil boks dan satu minibus.

Baca juga :

Perda Perladangan dan Dilema Karhutla di Tengah Perubahan Iklim: Suara dari Kalimantan

Apa Itu Galodo dan Mengapa Sering Terjadi di Sumatera Barat?

Istilah galodo berasal dari bahasa Minangkabau yang merujuk pada banjir bandang —bencana alam yang terjadi secara tiba-tiba akibat hujan berintensitas tinggi, disertai aliran material seperti batu, pasir, lumpur, kayu, dan debris lainnya yang memiliki daya rusak besar.

Galodo sering terjadi di wilayah bertopografi terjal dan rawan erosi, terutama di sekitar gunung berapi aktif seperti Gunung Marapi di Kabupaten Agam dan Tanah Datar. Saat curah hujan tinggi, material vulkanik Marapi seperti abu dan batuan bercampur dengan air hujan dan mengalir turun dari lereng gunung dengan kecepatan tinggi. Peristiwa banjir lahar hujan inilah yang oleh warga setempat dikenal dengan istilah galodo .

Mitigasi galodo dilakukan melalui perbaikan tutupan lahan di hulu, normalisasi alur sungai, penataan kawasan rawan, serta pembangunan bangunan pengendali sedimen seperti sabo dam untuk mengurangi daya rusak banjir bandang.

Evakuasi dan Penanganan Darurat di Tengah Malam

Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, Damkar Kabupaten Solok, serta masyarakat langsung melakukan evakuasi dan penyelamatan sesaat setelah banjir galodo Solok menerjang kawasan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Solok mendirikan posko pencarian dan penanganan bencana di depan Kantor Bupati Solok. Posko tersebut menjadi pusat koordinasi untuk proses evakuasi, pendataan, dan penanganan warga terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Solok, Khairul, menyatakan penanganan dilakukan bersama unsur terkait di bawah koordinasi pemerintah daerah. Tim Reaksi Cepat (TRC) gabungan hingga Selasa pagi masih melakukan penyisiran di sejumlah lokasi terdampak, fokus pada evakuasi lanjutan dan pendataan menyeluruh.

BPBD Kabupaten Solok mengimbau seluruh masyarakat di kawasan terdampak agar tetap waspada terhadap potensi banjir bandang susulan dan selalu mematuhi arahan petugas di lapangan. Warga yang berada di daerah rawan banjir, longsor, dan aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.

Warga yang Menanti Air Bah Surut

Banjir galodo Solok meninggalkan luka mendalam bagi warga Arosuka. Pusat pemerintahan yang seharusnya menjadi tempat pelayanan publik kini terbenam lumpur. Jalan penghubung utama antara Padang dan Solok masih tertutup material. Dan dua warga, Dafa dan Agusra, masih belum ditemukan.

Di rumah dinas Wakil Bupati Solok, sembilan keluarga menunggu air bah benar-benar surut. Mereka menanti kabar dari tim pencari, menanti banjir galodo Solok berlalu, dan menanti kehidupan kembali normal.

Banjir galodo Solok bukan sekadar bencana alam. Ia adalah pengingat bahwa di balik keindahan alam Sumatera Barat, tersimpan potensi bahaya yang menuntut kewaspadaan, mitigasi, dan kesiapsiagaan semua pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.