Bandung, KabarNusa.my.id – Siapa yang tak kenal Kripik Maicih? Camilan pedas khas Bandung yang pernah mengguncang jagat kuliner Indonesia dengan strategi pemasaran gerilya berbasis media sosial ini kini kembali menjadi perbincangan. Isu “Kripik Maicih Hancur” beredar di tengah masyarakat, memicu tanda tanya besar. Benarkah kejayaan camilan pedas legendaris ini telah pudar? KabarNusa.my.id menelusuri fakta di balik isu tersebut, mulai dari perjalanan bisnis, inovasi, hingga kontroversi yang membayangi.
🍟 Awal Mula Kejayaan: Dari Jualan Keliling Hingga Omzet Miliaran
Kripik Maicih lahir dari ide sederhana Reza Nurhilman pada tahun 2010. Bermodal Rp15 juta, ia mulai menjual keripik pedas yang dibelinya dari produsen lokal dengan harga Rp5.000 per bungkus, kemudian dijual kembali seharga Rp10.000 .
Keunikan Maicih terletak pada strategi pemasarannya. Tanpa toko fisik, Reza memanfaatkan media sosial Twitter dan Facebook untuk mengumumkan lokasi penjualan yang berpindah-pindah setiap hari. Strategi “gentayangan” ini menciptakan efek kelangkaan yang membuat konsumen rela berburu dan mengantri berjam-jam .
Dalam waktu kurang dari setahun, omzet Maicih melonjak hingga Rp7 miliar per bulan dengan produksi mencapai 2.000 bungkus per hari . Nama Maicih sendiri terinspirasi dari kata “icih” yang merujuk pada dompet kecil berisi receh dan sosok nenek pembuat keripik yang selalu mengenakan ciput di kepalanya .

🔥 Isu “Hancur”: Antara Persaingan dan Masalah Internal
Isu “Kripik Maicih Hancur” mulai merebak seiring dengan menghilangnya keviralan produk ini dari linimasa media sosial. Setelah 15 tahun berlalu, nama Maicih nyaris tak terdengar seviral dulu . Namun, berdasarkan fakta yang ada, Maicih tidak “hancur” dalam arti bisnisnya mati.
Owner Maicih, Bob Merdeka, menegaskan bahwa produknya masih terus eksis. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, Maicih telah bekerja sama dengan kafe dan toko oleh-oleh di Bandung serta mengembangkan aplikasi untuk reseller dengan ratusan titik pemasaran .
Yang membuat Maicih “hancur” justru adalah kontroversi internal. Pada 2025, mantan direktur Maicih, Tabratas Tharom, ditetapkan sebagai tersangka kasus penipuan yang merugikan Reza Nurhilman hingga Rp1,5 miliar. Tabratas diduga mengiming-imingi Reza dengan janji IPO dan investor ratusan miliar, namun malah membawa kabur dana perusahaan .
Selain itu, terjadi pecah kongsi antara kakak beradik di balik Maicih akibat perbedaan visi bisnis. Perbedaan ini bahkan tercermin dalam desain logo: sang kakak menggunakan logo emak-emak tampak dari depan, sementara sang adik menggunakan logo emak-emak dari samping .
🆕 Wajah Baru Maicih: Inovasi Kemasan dan Ekspansi Internasional
Maicih tidak tinggal diam. Pada 2025, mereka meluncurkan tampilan kemasan baru yang lebih segar dan modern dengan bantuan konsultan branding POT Branding House . Owner Maicih, Meiry Anwar, mengatakan perubahan ini bertujuan agar Maicih “glow up” dan lebih relevan dengan konsumen .
Ekspansi internasional pun terus dilakukan. Maicih telah menembus pasar Jepang, Australia, Belanda, Belgia, Filipina, Malaysia, dan Singapura . Target berikutnya adalah Meksiko, Uni Emirat Arab, Amerika, dan Korea, serta Madinah .
Maicih juga meluncurkan program “One Coin, One Purpose” yang menyisihkan Rp100 dari setiap kemasan untuk mendukung petani lokal dan urban farming . Level 10, varian terpedas, tetap menjadi favorit pelanggan setia .
⚖️ Kontroversi Hukum: Kasus Penipuan dan Pecah Kongsi
Kasus penipuan yang melibatkan Tabratas Tharom menjadi pukulan berat bagi Maicih. Reza Nurhilman melaporkan Tabratas pada 29 Agustus 2023, dan Polrestabes Bandung menetapkannya sebagai tersangka pada 7 Maret 2025 .
Selain kerugian material Rp1,5 miliar, Reza mengklaim kehilangan potensi pendapatan puluhan miliar akibat produksi dan distribusi yang terhambat karena masalah internal . Reza menghimbau para pengusaha untuk lebih berhati-hati terhadap modus serupa .
Ini bukan pertama kalinya Maicih berurusan dengan masalah hukum. Pada 2015, mantan direktur utama PT Maicih Inti Sinergi, Fajar Guntara, menjadi terdakwa kasus penggelapan barang-barang milik perusahaan, termasuk logo dagang dan sertifikat halal, yang merugikan perusahaan hingga Rp10 juta .
Isu “Kripik Maicih Hancur” lebih tepat dimaknai sebagai hilangnya keviralan produk, bukan matinya bisnis. Maicih tetap eksis dengan inovasi kemasan, ekspansi pasar internasional, dan program keberlanjutan. Namun, kontroversi hukum dan konflik internal menjadi ujian berat yang mengancam reputasi brand legendaris ini.
Dari Bandung untuk Indonesia dan dunia, Maicih membuktikan bahwa perjalanan bisnis tak selalu mulus. Namun, dengan semangat inovasi dan cinta pada rempah, Maicih terus melangkah menjawab tantangan zaman.
📝 KabarNusa.my.id
— Akurat – Terpercaya – Inspiratif
Kabar dari Daerah, untuk Indonesia. Menyajikan Fakta, Membangun Bangsa.



