, , , , ,

Progres BRT Bandung 2026: Jalur Khusus 21 Km, 256 Halte, dan Target Operasi 2027

oleh -168 Dilihat
oleh
Proyek pembangunan Halte BRT di Cicadas Bandung. Foto: KabarNusa

BANDUNG, KabarNusa.my.id — Progres BRT Bandung terus menjadi perhatian publik di tengah denyut kota yang tak pernah benar-benar berhenti. Di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di kawasan Cicadas, tiang-tiang pancang mulai berdiri. Trotoar yang sebelumnya dipenuhi kios pedagang kaki lima kini bersih, menyisakan ruang bagi struktur beton yang kelak menjadi halte Bus Rapid Transit (BRT).

Pagi itu, seorang pekerja proyek mengangkat helmnya sejenak, menyeka keringat. Di belakangnya, alat berat masih menggeram. Progres BRT Bandung memang sedang berjalan, perlahan namun pasti, menyentuh setiap sudut kota yang selama ini akrab dengan kemacetan.

Progres BRT Bandung: Ketika Kota Kembang Bersiap Punya Tulang Punggung Baru

Proyek BRT Bandung Raya adalah bagian dari Indonesia Mass Transit Project (MASTRAN) —sebuah inisiatif nasional yang melibatkan Kementerian Perhubungan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan lima pemerintah daerah di Cekungan Bandung: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang.

Total investasi yang digelontorkan mencapai Rp1,3 triliun, dengan sumber pembiayaan dari Bank Dunia, Agence Française de Développement (AFD), dan dana pendamping Pemerintah Indonesia.

Infografis Terminal Cicaheum Bandung. sumber Istimewa

Progres BRT Bandung bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Ia adalah upaya mengubah cara warga Bandung Raya bergerak—dari ketergantungan pada kendaraan pribadi menuju sistem transportasi massal yang terintegrasi, cepat, dan andal.

Groundbreaking Juli 2026: Titik Nol Transformasi Transportasi Bandung Raya

Progres BRT Bandung secara resmi dimulai pada Rabu, 22 Juli 2026, ketika peletakan batu pertama dilakukan di Terminal Leuwipanjang. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi hadir langsung, bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan para bupati serta wali kota se-Bandung Raya.

“Solusi yang kita perlukan bukan sekadar menambah kapasitas jalan, yang lebih penting adalah menghadirkan sistem transportasi publik yang handal, terintegrasi, dan menjadi pilihan utama masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari.” — Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi

Gubernur Dedi Mulyadi menyebut momen ini sebagai kegembiraan bagi masyarakat Bandung Raya. Ia menekankan bahwa transportasi publik modern bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan dasar warga metropolitan.

“Kehadiran BRT Bandung Raya memicu penataan kawasan perkotaan yang lebih rapi, mulai dari penyediaan trotoar bersih, penerangan jalan umum, hingga pembenahan sistem angkutan kota agar terintegrasi secara ramah lingkungan.” — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

Proses Pembangunan Halte BRT di Cicadas Bandung. Foto KabarNusa.

Jalur Khusus 21 Km dan 256 Halte: Jantung Infrastruktur BRT Bandung

Progres BRT Bandung tercermin dari infrastruktur yang tengah dibangun. Proyek ini mencakup:

  • Jalur khusus (dedicated lane) sepanjang 21 kilometer yang akan dilalui bus tanpa terhambat kemacetan lalu lintas umum

  • 256 halte di wilayah Bandung Raya, terdiri dari 232 halte di Kota Bandung dan 24 halte di Kota Cimahi

  • 37 halte on-corridor dengan konsep jalur terpisah menggunakan separator seperti sistem busway

  • 719 halte off-corridor yang tersebar di berbagai titik

  • 6 depo utama: Cicaheum, Leuwipanjang, Padalarang, Soreang, Cimenyan/Ciburuy, dan Majalaya

Kepala Dishub Kota Bandung, Rasdian Setiadi, menyatakan bahwa pembangunan halte dan infrastruktur koridor terus dikebut. Hingga Juli 2026, progres BRT Bandung telah mencapai lebih dari 30 halte selesai dibangun.

“Sekarang progresnya yang sudah selesai ada sekitar 30-an. Namun, ini sesuai dengan timeline-nya, yang memang tahun ini harus selesai.” — Rasdian Setiadi, Kepala Dishub Kota Bandung

Dari total 232 halte di Kota Bandung, sebanyak 172 titik berupa penanda halte berbentuk tiang, 80 titik berupa halte berukuran kecil, dan 4 titik berupa halte berukuran besar. Halte besar direncanakan dibangun di Stasiun Bandung, Jalan Merdeka, Summarecon Mall Bandung, dan Stasiun Kiaracondong.

Depo Cicaheum dan Leuwipanjang: Dari Terminal Tua ke Pusat Operasional Modern

Progres BRT Bandung juga terlihat dari pembangunan depo utama. Terminal Cicaheum, yang selama puluhan tahun menjadi denyut nadi transportasi antarkota, kini dibongkar untuk diubah menjadi depo BRT modern.

“Depo Cicaheum sudah dimulai. Karena sebelumnya kan ada permintaan PKL di situ untuk diberikan kompensasi, kompensasi sudah diberikan ke 115 PKL di situ. Jadi sekarang sudah mulai dilanjutkan pembangunannya.” — Rasdian Setiadi

Di Terminal Leuwipanjang, kantor Dishub Kota Bandung sudah dirobohkan. Di atas lahan seluas 3.961 meter persegi, akan berdiri depo BRT empat lantai yang mampu menampung 29 unit bus. Lantai 2 depo akan diserahkan kembali ke Dishub Kota Bandung untuk Bidang Dalops.

Medium Bus Kapasitas 60 Penumpang: Armada yang Akan Melayani Warga

Progres BRT Bandung tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga armada. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memastikan bahwa bus yang akan dioperasikan menggunakan medium bus dengan kapasitas sekitar 60 penumpang—spesifikasi serupa dengan Trans Metro Jabar (TMJ).

“Benar, pintunya ada di kedua sisi. Jalurnya terdiri dari dua lajur khusus dan dilengkapi pembatas jalur (separator).” — Wali Kota Bandung Muhammad Farhan

Rencananya, BRT Bandung Raya akan mengoperasikan 471 unit bus yang melayani 81 rute—termasuk 18 rute utama dan 27 rute feeder—menghubungkan Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cimahi, dan Sumedang.

Kemacetan yang Tak Terhindarkan

Di balik progres BRT Bandung yang terus berjalan, ada harga yang harus dibayar. Wali Kota Farhan secara terbuka mengakui bahwa pembangunan konstruksi BRT menimbulkan kemacetan di sejumlah ruas jalan.

“Saat ini akan mulai pengerjaan konstruksi BRT. Bukan hal yang menyenangkan, kemacetan akan terjadi di mana-mana, karena BRT bagaimanapun juga harus tetap kita jalankan, karena itu adalah program strategis nasional.” — Wali Kota Bandung Muhammad Farhan

Halte di tengah jalan—seperti di Jalan Ahmad Yani kawasan Cicadas, Jalan Jakarta, Ciroyom, dan Pasar Baru—menjadi yang paling banyak dikeluhkan karena memicu kemacetan. Farhan pun membuka opsi pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) agar masyarakat aman mengakses halte.

Dishub Kota Bandung juga telah mengeluarkan anggaran untuk memberikan kompensasi atas perubahan trayek angkot buntut pembangunan depo BRT di Terminal Cicaheum.

Menanti 2027, Ketika Bandung Raya Berubah

Progres BRT Bandung adalah cermin dari sebuah kota yang sedang bertransformasi. Di balik kemacetan sementara, di balik tiang-tiang pancang yang berdiri di tengah jalan, ada harapan akan masa depan di mana warga Bandung Raya tidak lagi terjebak dalam kemacetan yang menggerus waktu dan produktivitas.

Wali Kota Farhan menegaskan bahwa BRT akan beroperasi penuh tanpa konstruksi tambahan pada September 2027. Hingga saat itu tiba, progres BRT Bandung akan terus dipantau, dievaluasi, dan dikawal bersama.

Masyarakat diminta aktif melapor ke kanal 112 jika pengerjaan proyek memicu kendala lalu lintas. Karena pada akhirnya, BRT Bandung Raya bukan hanya milik pemerintah—ia adalah milik semua warga yang mendambakan transportasi publik yang layak.

 KabarNusa.my.id — Kabar Daerah untuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.